Evolusi Ritel dan Pusat Perbelanjaan di Jakarta

Kompas.com - 12/01/2019, 22:23 WIB
Ilustrasi pusat perbelanjaanPIXABAY/hpgruesen Ilustrasi pusat perbelanjaan

JAKARTA, KOMPAS.com - Hanya dalam beberapa dekade, podium ritel di Jakarta telah berkembang dari yang sederhana menjadi lebih canggih, baik dalam hal desain maupun konsep.

Menurut laporan yang dirilis Savills World Research berjudul "Market Trends | Jakarta Retail Evolution", Plaza Indonesia merupakan terobosan dalam pengembangan model pusat perbelanjaan pada awal 1990-an.

Selama itu pula, ukuran mal juga terus berkembang dari mulai 37.000 meter persegi (terbesar pada dekade 1980-an) hingga 100.000 meter persegi pada tahun 2000-an.

Baca juga: Ini Pertimbangan Peritel Saat Memilih Pusat Belanja

Pengembangan proyek skala besar juga semakin meningkat hingga awal 2010 sebelum berkurang pada 2015.

Evolusi ritel

Munculnya pusat perbelanjaan di Jakarta dimulai dari Sarinah pada tahun 1966. Setelah itu beberapa pusat perbelanjaan lain mulai bermunculan.

Pada periode ini, konsep yang ditawarkan masih sederhana. Umumnya penyewa tunggal mengambil hampir sebagian besar atau bahkan seluruh ruang ritel.

Gedung pusat perbelanjaan Sarinah di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (3/7/15). Sarinah merupakan pusat perbelanjaan pertama di Indonesia yang dibangun dan diresmikan pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.RADITYA HELABUMI Gedung pusat perbelanjaan Sarinah di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (3/7/15). Sarinah merupakan pusat perbelanjaan pertama di Indonesia yang dibangun dan diresmikan pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
Pusat perbelanjaan menjadi lebih berkembang pada dekade 1990-an. Pengembangan ritel sebelum tahun ini memang belum signifikan.

Memang beberapa proyek sudah mulai dikembangkan, seperti Ratu Plaza pada 1980 dan Gajah Mada Plaza pada 1982, namun desain dan konsepnya masih tergolong sederhana.

Pengembangan properti multifungsi atau mixed-use kemudian mulai populer pada tahun-tahun ini.

Konsep pengembangan dan desain merupakan salah satu aspek penting yang mendorong para pengembang untuk menggunakan jasa arsitek.

Setiap proyek pembangunan mal memiliki keunikan dan karakter tersendiri. Seperti Plaza Indonesia. Mal ini merupakan pusat perbelanjaan kelas atas pertama yang berada di Jakarta.

Tidak seperti proyek lainnya, desain merupakan salah satu elemen paling penting. Pada dekade ini, konsep pusat perbelanjaan berkembang menjadi lebih canggih dengan luas yang berkembang. 

Kemudian ada Ciputra Mall yang dibuka pada 1993 serta Mall Taman Anggrek pada 1996. Ketiga mal tersebut merupakan contoh sukses yang masih bertahan hingga kini.

Ilustrasi malshironosov Ilustrasi mal
Setelah krisis moneter melanda Asia pada akhir dekade 1990-an hingga awal 2000-an, konsep podium ritel terus mendapatkan popularitas.

Beberapa megaproyek yang muncul sebelum krisis, seperti Mall Taman Anggrek, mulai berkembang, terutama di segmen menengah ke atas.

Mengikuti tren yang berkembang pada dekade 2000-an, pada tahun 2010-an ini lebih banyak mal bermunculan.

Selama periode ini, pengembang tampaknya tertarik untuk membangun podium ritel kelas atas, mengingat stok yang terbatas. 



Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Close Ads X