Kompas.com - 18/12/2018, 08:39 WIB
Ilustrasi thinkstockIlustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemilu serentak akan dilaksanakan pada April 2019 mendatang. Kendati situasi politik kerap dikaitkan dengan ketidakpastian, tidak demikian dengan properti.

Managing Director Sinarmas Land Dhony Rahajoe mengatakan, hampir setiap tahun pemilu dilaksanakan di Indonesia. Meskipun, bukan dalam skala nasional.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Optimisme bahwa bisnis ini akan berjalan positif lantaran masih tingginya angka kebutuhan rumah yang beluk terpenuhi atau backlog. Terutama, kebutuhan rumah bagi segmen menengah ke bawah.

Baca juga: Pertumbuhan Properti Saat Ini Lebih Didorong Faktor Infrastruktur

"Kalau saya lihat siklus ini, kan pemilu sudah dilakukan berkali-kali ya. Namanya penjualan rumah ya tetap akan optimistis, tanah akan tetap dibutuhkan. Jadi kami tetap yakin 2019 baik untuk investasi properti," kata Dhony dalam sebuah diskusi di Jakarta, Senin (17/12/2018).

Sinyal kenaikan properti tersebut, kata dia, sudah terlihat sejak tahun ini. Walaupun kenaikannya dirasakan belum teralu signifikan.

"Khusus perumahan, apalagi kalau lihat year on year semester pertama dari KPR yang disalurkan Bank BTN itu di atas angka rata-rata yang dihitung OJK, (yaitu) 19 persen," ungkap Dhony.

Untuk diketahui, PT Bank Tabungan Negara (BTN) mencatat pertumbuhan kredit sebesar 19,28 persen menjadi Rp 220,07 triliun pada kuartal III 2018 ini. Angka tersebut meningkat dari penyaluran kredit BTN di kuartal III tahun 2017 yang sebesar Rp 184,5 triliun.

Pertumbuhan tersebut didorong kenaikan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Subsidi yang disalurkan melalui kucuran Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).

"Jadi kita melihat ada tren naik. Apalagi yang milenial ini sudah mulai ada kebutuhan dan banyak relaksasi yang diberikan pemerintah," imbuh dia.

Alih-alih memberikan pengaruh signifikan, menurut Dhonie, kondisi perekonomian global justru lebih berpengaruh daripada kondisi politik dalam negeri.

Perang dagang antara Amerika Serikat-China, serta rencana kenaikan suku bungan Bank Sentral AS, dipastikan dapat memberikan pengaruh besar terhadap industri properti Tanah Air.

"Kalau suku bunga naik, maka bunga konsumsi juga naik. Jadi sangat besar pengaruhnya. Harapannya yang optimis kita berharap pemerintah bisa menjaga stabilitas bunga di Indonesia sehingga bisa terjangkau," harap dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.