Dirut SMF: Garap Pasar Milenial, Bunga Bank Harus "Fixed"

Kompas.com - 02/12/2018, 18:22 WIB
Ilustrasi generasi milenial memilih tinggal di apartemen. ThinkstockIlustrasi generasi milenial memilih tinggal di apartemen.

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Utama PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF Ananta Wiyogo mengatakan, untuk menarik pasar generasi milenial dalam memanfaatkan fasilitas kredit pemilikan rumah (KPR), perbankan harus menetapkan suku bunga tetap atau fixed rate

"Yang diperlukan adalah melakukan strukturisasi KPR dengan fixed rate, seperti di negara Asia lainnya, misalnya Korea. Bank-bank dengan KPR fixed rate gampang masuk pasar modal, sehingga mudah menghimpun dana publik untuk disalurkan melalui KPR," tutur Ananta menjawab Kompas.com, Jumat (30/11/2018).

Dengan KPR fixed rate, kata Ananta, generasi milenial bisa mengelola penghasilannya dengan lebih baik.

Baca juga: Ananta Wiyogo: EBA-SP Ritel SMF Tak Kalah Kompetitif

Pasalnya, mereka memiliki penghasilan tak kalah besar. Bahkan, menurut Ananta, milenial yang berkarya di industri kreatif bisa meraup lebih dari Rp 15 juta atau Rp 20 juta dalam semalam.

Namun, karena selama ini fasilitas KPR dengan bunga tetap jarang diberlakukan, mereka lebih memilih membelanjakan uangnya untuk memenuhi kebutuhan traveling atau gaya hidup, ketimbang membeli rumah.

PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) mencatat pendapatan Rp 1,083 triliun hingga Oktober 2018. Tampak Direktur Utama PT SMF Ananta Wiyogo (tengah), didampingi Direktur PT SMF Heliantopo (kiri) dan Direktur PT SMF Trisnadi Yulrisman (kanan).Kompas.com/HILDA B ALEXANDER PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) mencatat pendapatan Rp 1,083 triliun hingga Oktober 2018. Tampak Direktur Utama PT SMF Ananta Wiyogo (tengah), didampingi Direktur PT SMF Heliantopo (kiri) dan Direktur PT SMF Trisnadi Yulrisman (kanan).
Selain itu, hal lain yang menghambat milenial membeli rumah adalah kenaikan harganya yang tidak sebanding dengan kenaikan penghasilan.

Indeks Harga Properti Residensial Bank Indonesia (BI) menunjukkan, rata-rata kenaikan harga rumah di 14 kota besar sekitar 39,7 persen.

Sementara kenaikan Upah Minimum Regional (UMR) per tahun kurang dari 10 persen. Artinya, kenaikan penghasilan tidak dapat menutupi kenaikan harga rumah.

Baca juga: Meski Ekonomi Lesu, SMF Bidik Pendapatan 2019 Tetap Tumbuh

"Idealnya, harga rumah yang bisa diakses oleh para milenial adalah maksimal 3 kali penghasilan tahunan. Jika harga rumah Rp 300 juta, maka penghasilan harus Rp 100 juta per tahun atau Rp 8 jutaan per bulan," papar Ananta.

Jadi, wajar saja bila menurut Susenas BPS per maret 2017, proporsi belanja kalangan milenial didominasi kebutuhan konsumsi yakni 50 persen. Sementara belanja perumahan hanya 23,8 persen.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X