Kompleks Budaya di Hangzhou Ini Gunakan Ubin Daur Ulang

Kompas.com - 09/11/2018, 10:06 WIB
bentuk atap yang melengkung terlihat dan menjadi salah satu ornamen penghias. Bentuk kurva ini menjadikan interior ruangan seperti di dalam tenda. 
Yueqi Jazzy Li. bentuk atap yang melengkung terlihat dan menjadi salah satu ornamen penghias. Bentuk kurva ini menjadikan interior ruangan seperti di dalam tenda.

KOMPAS.com - Arsitek peraih Pritzker Prize, Wang Shu, merancang kompleks budaya bernama Fuyang Cultural Complex. Uniknya, ubin yang digunakan merupakan hasil daur ulang.

Kompleks gedung yang dibangun di Hangzhou, China, ini terdiri dari tiga bangunan, yakni Museum Fuyang, Gedung Arsip Fuyang, dan Museum Seni Gongwang.

Selain ubin yang terbuat dari bahan daur ulang, keunikan lain dari kompleks ini adalah atap yang dirancang bergelombang.

Atap ini dilapisi dengan ubin campuran. Uniknya, atap gedung dapat diakses melalui tangga dan jalan yang terhubung. Dari atas atap, pengunjung dapat menikmati pemandangan pegunungan yang subur.

Bagian ini juga didesain dengan bentuk kurva yang terinspirasi dari bentuk rumah tradisional China. Sedangkan bentuk tusukan pada atap, menjadi tempat bersandarnya tangga bangunan.

Baca juga: Berkunjung ke Hangzhou, Tuan Rumah Asian Games 2022

Di dalam bangunan, terlihat bentuk atap yang melengkung dan menjadi salah satu ornamen penghias. Bentuk kurva ini menjadikan interior ruangan seperti di dalam tenda.

Bangunan ini dilengkapi dengan jendela-jendela sempit. Sempitnya celah jendela membuat bagian ini tidak terlihat dari luar bangunan.

Jendela sempit ini mirip dengan bangunan Ningbo History Museum, yang juga merupakan rancangan dari firma pimpinan Wang Shu.

Sama seperti Fuyang Cultural Complex, kompleks museum ini juga dilengkapi dengan material daur ulang. Diselesaikan pada 2008, fasad tiga bangunan tersebut terbuat dari debris atau puing sisa gedung yang sudah dihancurkan.

Dari atas atap, pengunjung dapat menikmati pemandangan pegunungan yang subur. 
Yueqi Jazzy Li. Dari atas atap, pengunjung dapat menikmati pemandangan pegunungan yang subur.
Wang Shu mendirikan firma arsitek Amateur Architecture Studio di Hangzhou pada 1998 bersama istrinya, Lu Wenyu. Dia juga merupakan arsitek China pertama yang memenangi Pritzker Prize pada 2012.

Dia bersama para siswa dari China Art Academy melakukan survei terhadap rumah-rumah tua di daerah tersebut. Dia juga melakukan penelitian terhadap teknik serta bahan konstruksi tradisional.

Firma yang dia kelola juga pernah memulihkan rumah-rumah tua di Wenchun menggunakan bambu serta membangun unit yang lebih besar.




Close Ads X