Kapan Harga Properti Turun?

Kompas.com - 01/11/2018, 09:00 WIB
Ilustrasi rumah BrianAJacksonIlustrasi rumah

SENIN HARGA NAIK. Begitu pesan yang selalu digaungkan sebuah pengembang properti dalam materi promosinya. Pesan ini memiliki kecenderungan mendorong konsumen untuk segera ambil keputusan untuk membeli.

Sayangnya, bagi mereka yang belum paham bahwa harga properti memang cenderung akan naik terus, pesan ini malah membuat turn off, “ilfil” kata anak sekarang. Seolah dipaksa membeli tanpa boleh punya waktu untuk berpikir, walau tidak juga setiap Senin harganya naik, bukan?

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Faktanya, benar harga properti punya kecenderungan untuk terus naik. Terbukti dari bagaimana bank mau memberikan tenor kredit yang relatif panjang, hingga puluhan tahun.

Sementara barang yang nilainya menyusut pasti sulit memperoleh kredit jangka panjang. Ada kekhawatiran nilainya sudah terdepresiasi habis sebelum cicilan selesai. Dengan kata lain, bank akan “memiliki” barang yang nilainya kurang sebagai jaminan pinjaman.

Empat Faktor

Tendensi kenaikan harga properti dipengaruhi beberapa hal. Pertama, lahan merupakan produk yang tidak bisa digandakan dan bersifat unik. Dalam konteks properti, lahan tidak melulu hanya soal ukuran, tapi juga dari lokasi, lingkungan, detail posisi, nomor kavling, dan lain sebagainya.

Semua hal ini unik dan tidak bisa diduplikasi. Tak heran jika investor properti akan selalu “teriak” lokasi, lokasi, dan lokasi. Pun ketika lahan bisa direproduksi melalui proses reklamasi, tetap saja lokasi dan detail posisinya tidak mungkin bisa diduplikat sama persis.

Ilustrasi KPRwww.shutterstock.com Ilustrasi KPR
Akibatnya, nilainya cenderung naik karena keterbatasan ketersediaan, kalau sudah habis ya habis.

Faktor kedua yang memengaruhi nilai lahan adalah lingkungan dengan kecenderungan juga terus berkembang. Kecuali ada kejadian luar biasa, sebuah lingkungan akan kian ramai, semakin lengkap, makin hidup, yang juga turut mendorong naiknya harga lahan.

Bahkan ketika fasilitas lingkungan sekitar sudah mulai menua dan nilainya terdepresiasi, harga lahan tidak ikut turun melainkan masih bergerak naik perlahan, meski tidak drastis.

Kejadian luar biasa di atas misalnya adalah jalan non-tol Jalur Pantura. Jalur ini sebelumnya ramai dilewati kendaraan, kini harus berbagi dengan Tol Cikampek-Palimanan yang menyedot sebagian besar kendaraan. Kondisi ini menurunkan daya tarik lingkungan terhadap jalan non tol Jalur Pantura.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.