Berani Berubah, Kunci Industri Furnitur Hadapi Pasar yang Dinamis

Kompas.com - 24/10/2018, 18:00 WIB
Talkshow Hospitality 2018 dengan tema How this industry see its adaptive capability? Is it already part of its DNA or still a major dilemma? yang diselenggarakan di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (24/10/2018). KOMPAS.com/ANISSA DEA WIDIARINITalkshow Hospitality 2018 dengan tema How this industry see its adaptive capability? Is it already part of its DNA or still a major dilemma? yang diselenggarakan di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (24/10/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com – Pelaku industri furnitur di Indonesia harus terus beradaptasi untuk menjawab perubahan pasar. Pasalnya, saat ini konsumen terus berubah menjadi semakin pintar dengan beragam kebutuhan.

Hal inilah yang disadari oleh Yopie Susanto, CEO Kudos Istana Furniture yang sudah berkecimpung selama lebih dari 20 tahun di industri furnitur Indonesia. Selama dua dekade itu pula Yopie selalu berusaha beradaptasi dengan perubahan zaman.

Cara Yopie merespon perubahan adalah dengan menciptakan tren-tren kecil di dunia industri furnitur. Menurut dia, tren-tren yang dimunculkannya ini merupakan respon terhadap perubahan yang bisa saja menjadi ancaman.

“Kalau kami tidak bisa dengan cepat merespon perubahan yang terjadi, maka kami akan tertinggal,” ucap Yopie dalam talkshow Building Adaptive Culture in Smarter World di acara Hospitality 2018 di JIExpo Kemayoran, Rabu (24/10/2018).

Baca juga: Kebutuhan Meningkat, Peluang Industri Furnitur Tanah Air Makin Lebar

Sementara itu, tuntutan untuk beradaptasi dengan perubahan di era digital dijawab Yopie dengan meluncurkan brand furnitur baru bernama Nestudio.

Sebagai brand furnitur baru, Nestudio mengeluarkan koleksi bernama “Turquoise Cream” dan menyasar milenial sebagai konsumennya.

Nestudio sendiri berbeda dengan Kudos Istana Furniture. Jika Kudos Istana Furniture memasarkan produk furniturnya ke hotel-hotel, Nestudio langsung memasarkan produk kepada konsumen atau business to consumer (B2C).

Walaupun Nestudio memiliki model pemasaran yang berbeda, Yopie menjamin kualitas dari furnitur yang dipasarkan tetap sama.

“Kualitas produk yang kami tampilkan itu bukan sekadar kualitas di sisi eksposnya (sisi terlihat) saja. Akan tetapi sisi furnitur yang tidak tampak dari luar juga memiliki kualitas yang sama baiknya,” jelasnya.

Koleksi pertama Nestudio Turquoise Cream yang dipamerkan di Hospitality 2018.KOMPAS.com/ANISSA DEA WIDIARINI Koleksi pertama Nestudio Turquoise Cream yang dipamerkan di Hospitality 2018.
Agar bisa terus beradaptasi dengan era digital saat ini, pemasaran produk-produk Nestudio dilakukan secara online. Salah satunya melalui situs e-commerce Indonesia, Blibli.com. 

Meskipun masih tergolong pemain baru, Yopie tidak takut untuk menjual produknya secara online. Ia optimistis kolaborasi antara Nestudio dengan Blibli.com bisa mendatangkan kesuksesan.

Apalagi, Blibli.com telah memiliki banyak pengalaman dalam menjalankan bisnis e-commerce furnitur. 

Sementara itu, Vice President Home and Living Category Blibli.com Wenny Yuniar mengatakan, konsumen tidak perlu takut untuk membeli furnitur secara online. Pasalnya, pembelian furnitur melalui e-commerce sama amannya dengan pembelian offline.

“Untuk meningkatkan kepercayaan konsumen, kami memberikan fasilitas retur. Jadi, kalau konsumen tidak cocok atau produk yang datang tidak sesuai dengan yang dilihat di online bisa dikembalikan,” ucap Wenny.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X