Meski Jadi Tren, Warga Kota Ini Menolak "Smart City"

Kompas.com - 20/10/2018, 18:58 WIB
Ilustrasi smart citySHUTTERSTOCK Ilustrasi smart city

KOMPAS.com - Meski perencanaan smart city di seluruh belahan dunia mengalami pertumbuhan yang signifikan, namun nyatanya hal ini tidak terjadi di beberapa kota kecil.

Kota-kota tersebut masih memegang teguh adat dan nilai-nilai lokal. Tidak seperti Singapura dan kota di Korea Selatan, kepopuleran konsep ini ditolak oleh warga di Kota Santa Maria Tonantzintla.

Warga kota yang terletak tiga jam dari Ibu Kota Meksiko, Mexico City, ini menolak adanya program smart city di wilayahnya.

Kota Santa Maria Tonantzintla merupakan bagian dari Provinsi Puebla, yang sudah menerapkan kebijakan smart city yang dikenal dengan nama Barrio Smart.

The Guardian melaporkan, Barrio Smart merupakan program yang bertujuan membangun ruang yang bermanfaat bagi warga melalui penerapan teknologi.

Teknologi smart city di Puebla terbagi dalam beberapa program, yakni internet gratis, sistem penyeberangan yang aman, pengawasan video, alarm gempa bumi, taman bermain, pembuangan sampah, rambu kota, penerapan bangku ramah lingkungan, serta sistem pembayaran.

Masyarakat Kota Santa Maria Tonantzintla menganggap, program smart city bertentangan dengan tradisi dan nilai-nilai lokal. 
Madeleine Wattenbarger Masyarakat Kota Santa Maria Tonantzintla menganggap, program smart city bertentangan dengan tradisi dan nilai-nilai lokal.
Namun, masyarakat kota tersebut menganggap, program ini bertentangan dengan tradisi dan nilai-nilai lokal.

Selain itu, masyarakat kota juga berpendapat, para petinggi yang berada di balik program ini hanya ingin mengikuti tren di negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan negara di Eropa.

Mereka menganggap, konsep ini hanya menguntungkan pendatang dari luar, dan tidak memiliki dampak apapun ke penduduk lokal.

"Ketika para politisi menanyakan apa yang kami butuhkan, kami menjawab bahwa kami membutuhkan klinik, taman, dan hal-hal lain yang mampu menghibur warga," ucap salah satu warga, Tecual Porquillo.

Namun hal ini dibantah oleh arsitek Victor Campos. Menurutnya, warga tidak mengerti tujuan utama dari program ini.

Campos menambahkan, tujuan program smart city sebenarnya malah lebih mengutamakan ruang terbuka bagi warga, sehingga tempat-tempat tersebut dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

Dia juga berpendapat, banyaknya turis yang melalui kota ini hanya memberikan sedikit manfaat kepada warga.

Arsitek Victor Campos mengatakan, tujuan program smart city sebenarnya malah lebih mengutamakan ruang terbuka bagi warga, sehingga tempat-tempat tersebut dapat berfungsi sebagaimana mestinya. 
Eleni Mavrandoni Arsitek Victor Campos mengatakan, tujuan program smart city sebenarnya malah lebih mengutamakan ruang terbuka bagi warga, sehingga tempat-tempat tersebut dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
Dengan adanya program ini, diharapkan, para wisatawan dapat lebih memberikan perhatian terhadap kondisi kota, yang nantinya mampu memberi pemasukan tambahan bagi warga.

Menurut Campos, salah satu bagian dari program tersebut adalah peningkatan kondisi jalanan supaya lebih layak, sekaligus memberikan regulasi bagi kendaraan tertentu.

Selain itu, pemerintah juga akan menyediakan lebih banyak ruang terbuka untuk penyelenggaraan acara-acara lokal.

Di Puebla, sebanyak 15 kota ditargetkan akan menerapkan konsep smart city. Salah satunya adalah Kota Atlixco.

Kota yang berjarak sekitar setengah jam dari Tonantzintla menjadi kota pertama yang menerapkan konsep smart city di kawasan Amerika Latin.

Pemerintah kota ini melengkapi wilayahnya dengan jalur sepeda, kamera pengawas, sensor kecepatan untuk kendaraan, dan juga akses internet gratis.




Close Ads X