Yori Antar, Wae Rebo, dan Desa Wisata - Kompas.com

Yori Antar, Wae Rebo, dan Desa Wisata

Kompas.com - 13/10/2018, 12:04 WIB
Kampung adat Wae Rebo di Desa Satarlenda, Kecamatan Satar Mese Barat, Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Minggu (12/6/2016). Meski semakin dikenal sebagai salah satu destinasi wisata internasional, warga adat Wae Rebo masih mempertahankan tradisi dan kearifan leluhur mereka.KOMPAS/RADITYA HELABUMI Kampung adat Wae Rebo di Desa Satarlenda, Kecamatan Satar Mese Barat, Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Minggu (12/6/2016). Meski semakin dikenal sebagai salah satu destinasi wisata internasional, warga adat Wae Rebo masih mempertahankan tradisi dan kearifan leluhur mereka.

JAKARTA, KOMPAS.com – Pembangunan kembali rumah adat di Desa Wae Rebo, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, tidak lepas dari peran seorang arsitek bernama Yori Antar.

Bersama teman-teman yang tergabung dalam Yayasan Rumah Asuh, niatnya untuk memperbaiki sejumlah rumah penduduk membuahkan hasil positif yang bisa dirasakan oleh masyarakat setempat.

Rumah adat ini disebut mbaru niang. Ada tujuh rumah yang terdapat di Wae Rebo dan semuanya dalam kondisi rusak karena dimakan usia.

Berlatar belakang sebagai arsitek berpengalaman, Yori Antar datang ke sana untuk memperbaiki kerusakan rumah-rumah itu sekaligus melestarikannya sebagai rumah adat peninggalan nenek moyang.

Rencana perbaikan dan pembangunan kembali mbaru niang mendapat respons positif dari masyarakat setempat.

Mereka bergotong royong membangun satu per satu, hingga tujuh rumah selesai dikerjakan dengan bentuk dan ciri khas sesuai aslinya.

“Saat saya dan teman-teman datang tahun 2008 rumahnya tinggal empat, dua kondisinya rusak. Satu-satu dibangun sampai lengkap ditambah tiga rumah baru dengan bentuk rumah asli, tapi bangunan modern,” ucap Yori kepada Kompas.com, Jumat (12/10/2018) di Jakarta.

Setelah selesai dibangun, rumah itu tidak hanya sebagai tempat tinggal, tetapi juga tempat pemberdayaan masyarakat, yang disebut sebagai rumah belajar.

Penduduk setempat diajari berbagai keterampilan, antara lain tentang pariwisata, bahasa, dan kuliner.

Dengan mendapatkan keterampilan baru, diharapkan mereka memiliki kemampuan untuk mengembangkan desanya sebagai desa wisata yang siap menerima kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara.

Arsitek Yori Antar.KOMPAS.com/ERWIN HUTAPEA Arsitek Yori Antar.

“Sekarang Wae Rebo sudah jadi desa wisata. Itu yang namanya konsep desa wisata, bukan wisata desa yang diciptakan tapi pemegang sahamnya developer atau pengusaha,” ujar Yori dengan tegas.

Maksudnya, dia ingin penduduk lokal mempunyai keterampilan dan kemampuan mengelola sumber daya alam dan manusia di sana untuk menghasilkan sesuatu yang menarik dan berguna, baik berupa barang maupun jasa.

Nantinya, hal itu bisa jadi sumber pemasukan dan membantu meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. Selain itu, mereka pun tetap menjaga kelestarian budaya yang sudah turun-temurun.

“Jadi kita lestarikan Wae Rebo sebagai living culture, tidak hanya arsitektur, tapi kearifan lokalnya,” imbuh Yori.



Close Ads X