Pertemuan IMF-WB Tak Berpengaruh Signifikan Pada Sektor Properti - Kompas.com

Pertemuan IMF-WB Tak Berpengaruh Signifikan Pada Sektor Properti

Kompas.com - 10/10/2018, 16:05 WIB
Ilustrasi apartemenThinkstock Ilustrasi apartemen

JAKARTA, KOMPAS.com - Pertemuan Tahunan IMF-World Bank yang digelar di Bali pada 8-14 Oktober 2018 dinilai tidak akan berpengaruh signifikan terhadap permintaan properti.

Head of Residential JLL Luke Rowe mengutarakan pendapatnya kepada Kompas.com, Rabu (10/10/2018).

"This event will have no significant impact on demand in my view," ujar Luke.

Baca juga: Tunggu Pemerintahan Baru, Investor Tunda Beli Apartemen Strata

Terlebih, kondisi pasar properti untuk kelas menengah dan mewah juga masih rentan terhadap fluktuasi Rupiah, dan naiknya suku bunga acuan BI 7 Day Repo Rate menjadi 5,75 persen.

Menurut Luke, kedua faktor tersebut sangat memengaruhi pasar kelas menengah dan mewah. Belum lagi faktor Pemilihan Umum 2019 mendatang serta ketidakpastian ekonomi dunia menjadi penyebab pasar properti belum akan bangkit.

"Masih lemah, terutama untuk properti hunian," tambah Luke.

Kalau pun ada satu area yang laik menjadi perhatian adalah wilayah pertumbuhan baru yang dekat atau terintegrasi dengan infrastruktur transportasi, terutama light rail transit (LRT). 

Hunian seperti ini dengan kategori menengah ke bawah, Luke memandangnya, masih sangat menjanjikan. Hal ini diperkuat hasil riset JLL Indonesia.

Selama triwulan III-2018 penjualan unit-unit hunian vertikal di sepanjang jalur LRT, menunjukkan angka positif. Terutama untuk unit-unit ukuran kecil dengan harga terjangkau maksimal Rp 20 juta per meter persegi.

Head of Research JLL Indonesia James Taylor mengatakan, penjualan apartemen murah menengah ke bawah mendominasi penjualan apartemen seluruh kelas yang tercatat 63 persen dari total 30.000 unit eksisting.

"Angka ini masih cukup positif. Karena pasar ini yang paling besar dan banyak pengembang memberikan kemudahan. Sementara pasar menengah atas dan mewah masih menghadapi tantangan. Ada fluktuasi Rupiah, juga PPNBM," tuntas James.

 

 

 



Close Ads X