Aturan Ganjil-Genap Tak Kurangi Macet Jakarta - Kompas.com

Aturan Ganjil-Genap Tak Kurangi Macet Jakarta

Kompas.com - 10/10/2018, 15:30 WIB
Direktur Utama PT MRT Jakarta William SabandarKompas.com / Dani Prabowo Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar

JAKARTA, KOMPAS.com - Berbagai intervensi yang dilakukan pemerintah untuk mengurangi kemacetan di DKI Jakarta, akan sia-sia bila masyarakat tidak ingin menerapkan budaya bertransportasi publik.

Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar mengatakan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta telah menerapkan aturan pelat ganjil genap bagi kendaraan yang melintas di jalanan ibu kota.

Kebijakan yang awalnya diterapkan untuk menyambut Asian Games 2018 tersebut kemudian diperpanjang waktu pelaksanaannya dan juga lokasinya.

Baca juga: Trase MRT Jakarta Diusulkan Sampai Bandara Soekarno-Hatta

Namun, alih-alih berpindah menggunakan transportasi publik, masyarakat yang memiliki kemampuan finansial justru lebih memilih membeli kendaraan baru dengan harapan dapat melengkapi pelat yang belum dimiliki.

"Akibatnya apa? Jakarta semakin macet. Karena mau diakalin seperti apapun, orang Jakarta itu pintar. Kita justru masuk ke dalam siklus yang membuat Jakarta semakin macet, semakin tidak nyaman," kata William dalam sebuah diskusi bertajuk 'Budaya Baru Bertransportasi Publik' di Jakarta, Rabu (10/10/2018).

Dalam sehari, warga DKI Jakarta dapat menghabiskan waktu antara dua hingga tiga jam di jalan lantaran tingkat kemacetan yang tinggi.

Padahal, waktu yang terbuang sia-sia tersebut dapat dimanfaatkan untuk hal lain yang lebih positif, seperti berkumpul bersama keluarga, teman, berolahraga atau melakukan aktivitas lainnya.

William menambahkan, hadirnya MRT di tengah masyarakat Jakarta dapat menjadi salah satu katalis perubahan gaya hidup.

Ketika proyek ini dicetuskan pertama kali pada sepuluh tahun lalu, baik Pemprov DKI maupun pemerintah pusat sepakat, kemacetan di Jakarta menjadi persoalan utama yang harus segera diselesaikan.

Salah satunnya yaitu dengan membangun sistem transportasi berbasis rel di bawah tanah. Selain untuk membangun budaya transportasi baru, moda transportasi ini mudah ditemui di sejumlah kota-kota besar di belahan dunia lain.

"Kalau ini tidak dilakukan perbaikan sistem transportasi publik dengan metro, 2020 itu Jakarta akan gridlock. Gridlock itu sudah tidak bisa jalan lagi," kata dia.

"Mau pakai Waze juga enggak akan bantu. Waze hanya berfungsi kalau kita bisa ini (kemacetan berkurang). Begitu dia macet, Waze yang paling hebat pun akan fail," tutup William.



Close Ads X