Puerto Princesa, Kota Kecil Filipina yang Bebas Karbon - Kompas.com

Puerto Princesa, Kota Kecil Filipina yang Bebas Karbon

Kompas.com - 10/10/2018, 14:34 WIB
Puerto PrincesaProperty Report Puerto Princesa

KOMPAS.com - Di seluruh dunia, banyak kota yang sedang berperang dengan emisi karena melonjaknya arus urbanisasi.

Bahkan menurut Perserikatan Bangsa-bangsa, Lebih dari dua per tiga penduduk dunia akan hidup di perkotaan pada 2050.

Kota-kota juga mengonsumsi lebih dari dua per tiga energi di dunia serta mengeluarkan tiga perempat dari jumlah total karbon dioksida.

Baca juga: Kota Pintar, Kunci Mengurangi Karbon

Merespon hal ini, sebuah kota di Filipina, Puerto Princesa, mengeluarkan kebijakan yang membuatnya menjadi kota pertama di kawasan Asia Tenggara sebagai kota nol karbon. Penghargaan ini diraih sejak 2011.

Disebut Nol Karbon, karena pada dasarnya kota ini malah menyerap karbon dioksida dari udara dibanding dengan kota-kota kebanyakan.

"Kota ini merupakan contoh baik dimana masyarakat bersatu dan bekerja sama untuk mencapai satu tujuan," ujar Frances Victorio, mantan pemimpin Komisi Perubahan Iklim Filipina.

Sebelumnya, Puerto Princesa sudah berkecimpung dalam program Zero Carbon Resort. Program ini membolehkan resor untuk meminta audit dan mendapatkan panduan untuk meningkatkan efisiensi energi.

Bangunan di kota ini menerapkan konsep green building untuk menghindari penggunaan solar pada rumah-rumah dan hotel.

Program ini diluncurkan oleh Palawan Council for Sustanaible Development pada 2011. Sebagian dari program ini didanai oleh Uni Eropa.

"Langkah-langkah yang kami perkenalkan di sektor pariwisata, sumber energi terbarukan, penggunaan material lokal dan teknologi ramah lingkungan. Saat ini sedang diperkenalkan ke sektor lain pula," ujar perwakilan Palawan Council for Sustainable Development, Adelina Benavente-Villena.

Program ini memberikan saran kepada pengunjung resor mengenai bagaimana menghemar energi dan biaya, dengan cara menggunakan panel surya dan lampu LED.

Kedua alat tersebut bisa digunakan untuk mengumpulkan air hujan untuk digunakan dalam aktivitas sehari-hari.

Selain itu, program ini juga mengajak masyarakat dan pengunjung resor untuk menggunakan botol isi ulang dan atap bambu untuk mengurangi penggunaan pendingin ruangan.

Untuk mengukuhkan gelar sebagai wilayah tanpa karbon, bulan lalu kota ini meloloskan Kebijakan Nol Karbon dan Gedung Hijau.



Close Ads X