Lengkapi Rencana Tata Ruang, Pemetaan Gempa Mikrozonasi Dibutuhkan

Kompas.com - 09/10/2018, 18:19 WIB
Anggota TNI melakukan pencarian korban hilang akibat gempa bumi di Perumnas Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (6/10/2018). Gempa bumi Palu dan Donggala bermagnitudo 7,4 mengakibatkan sedikitnya 925 orang meninggal dunia dan 65.733 bangunan rusak.KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO Anggota TNI melakukan pencarian korban hilang akibat gempa bumi di Perumnas Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (6/10/2018). Gempa bumi Palu dan Donggala bermagnitudo 7,4 mengakibatkan sedikitnya 925 orang meninggal dunia dan 65.733 bangunan rusak.

JAKARTA, KOMPAS.com - Selain bencana alam gunung meletus, gempa juga menghantui hampir seluruh wilayah di Indonesia. 

Direktorat Jenderal Tata Ruang Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Abdul Kamarzuki mengungkapkan, seluruh wilayah di Indonesia memiliki kerawanan terhadap gempa.

"Dari sudut pandang bencana lain dapat dikatakan tidak ada kabupaten atau pun kota di Indonesia yang bebas dari ancaman bahaya," ujar Abdul menjawab Kompas.com, Selasa (9/10/2018).

Menurut dia, hanya Pulau Kalimantan yang relatif memiliki bahaya rendah.

89 Patahan Aktif Melintasi Permukiman

Berdasarkan data yang diperoleh dari Peta Gempa Nasional yang dirilis tahun 2017, terdapat setidaknya 295 zona bahaya patahan aktif.

Selain zona patahan aktif, adapula zona subduksi yang melintas Pantai Barat Sumatera, Pantai Selatan Jawa-Bali, Nusa Tenggara, dan di utara Sulawesi.

Selain itu, zona subduksi tersebut juga melintasi Kepulauan Maluku dan Papua. Abdul menambahkan, ketika data tersebut dibeberkan, ada sekitar 89 patahan aktif yang melintasi permukiman.

Baca juga: Banyak Riset tentang Potensi Gempa Seringkali Diabaikan

Peta Gempa Nasional 2017 sangat berguna sebagai acuan dalam pembuatan bangunan tahan gempa. Namun Abdul menambahkan, peta tersebut hanya menyebutkan bahaya guncangan di batuan dasar.

"Sedangkan perencanaan tata ruang membutuhkan informasi bahaya guncangan di permukaan yang dapat bervariasi di berbagai lokasi di Indonesia," imbuh dia.

Variasi ini disebabkan oleh adanya perbedaan kondisi geologi dan jenis tanah di atas batuan dasar tersebut.

Misalnya jenis tanah lunak seperti rawa gambut dan tanah aluvial yang dapat memengaruhi penguatan gelombang guncangan gempa.

Mayoritas masyarakat menempati wilayah ini karena mempertimbangkan kesuburan tanah dan aspek morfologinya.

Perumnas Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah, luluh lantak akibat gempa bumi terlihat, Sabtu (6/10/2018). Gempa bumi Palu dan Donggala bermagnitudo 7,4 mengakibatkan sedikitnya 925 orang meninggal dunia dan 65.733 bangunan rusak.KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO Perumnas Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah, luluh lantak akibat gempa bumi terlihat, Sabtu (6/10/2018). Gempa bumi Palu dan Donggala bermagnitudo 7,4 mengakibatkan sedikitnya 925 orang meninggal dunia dan 65.733 bangunan rusak.
Abdul menuturkan, banyak pihak yang mengeluarkan peta bencana, termasuk Kementerian PUPR.

"Oleh karena itu, Peta Gempa 2017 pada skala nasional tersebut perlu dirincikan ke dalam peta mikrozonasi gempa bumi, khususnya pada skala kabupaten atau kota agar dapat digunakan dalam RTRW dan RDTR," tutur Abdul.

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X