Bentuk Hunian Sementara Korban Bencana di Beberapa Negara - Kompas.com

Bentuk Hunian Sementara Korban Bencana di Beberapa Negara

Kompas.com - 08/10/2018, 16:56 WIB
Puing bangunan di Perumnas Balaroa akibat gempa bumi yang mengguncang Kota Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (30/9/2018). Gempa bermagnitudo 7,4 mengakibatkan ribuan bangunan rusak dan sedikitnya 420 orang meninggal dunia.KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO Puing bangunan di Perumnas Balaroa akibat gempa bumi yang mengguncang Kota Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (30/9/2018). Gempa bermagnitudo 7,4 mengakibatkan ribuan bangunan rusak dan sedikitnya 420 orang meninggal dunia.

KOMPAS.com - Hunian sementara merupakan salah satu solusi jangka pendek untuk mengatasi masalah tempat tinggal bagi warga yang terkena bencana.

Setelah gempa dan tsunami menerjang Sulawesi tengah, dan Sulawesi Barat, pemerintah berencana untuk membangun hunian sementara (huntara) bagi warga.

Selain Indonesia, beberapa negara juga menerapkan solusi ini sebagai salah satu penanganan dampak bencana alam.

China

Gempa brmagnitudo 8 yang mengguncang Sichuan pada 2008, meluluhlantakkan sebagian besar bangunan di wilayah tersebut. Tercatat, korban meninggal akibat bencana ini sekitar 70.000 jiwa.

Di Kota Beichuan, rumah-rumah mungil seluas lebih dari 3,7 meter persegi dibangun bagi 20.000 korban terdampak bencana.

Baca juga: Lokasi Huntara di Palu Segera Ditentukan

Melansir Telegraph, dinding rumah dibangun dari bahan alumunium. Untuk menghalau panas, dinding rumah dibalut dengan lapisan polystyrene. Pada bagian dalam, terdapat satu buah lampu untuk penerangan.

Namun rumah ini tidak dilengkapi dengan alat pemanas, karena memperhitungkan risiko kebakaran. Hunian sementara ini hanya mampu menampung korban selama enam bulan saja.

Laos

Pada Juli 2018, bendungan yang berada di Provinsi Attapeu, Laos jebol. Kejadian ini mengakibatkan sekitar 120.000 warga mengungsi dari rumah mereka.

Komunitas dan masyarakat setempat kemudian membangun rumah sementara bagi para korban.

Mengutip Laoan Times, Sebanyak 12 hingga 14 rumah satu lantai dibangun oleh perusahaan energi setempat.

Salah satu rumah sementara yang dibangun memiliki 10 ruangan. Setiap ruangan mampu menampung empat orang.

Jepang

kasetsu , rumah sementara bagi korban bencana di Jepang. Japan Times kasetsu , rumah sementara bagi korban bencana di Jepang.
Setelah gempa dan tsunami pada 2011 menerjang Jepang, sebanyak 110.000 orang kehilangan rumah. Mereka berbondong-bondong menghuni lokasi penampungan yang disediakan.

Namun hal ini tidak bisa berlangsung lama. Pemerintah Jepang kemudian membangun hunian sementara bagi warga terdampak.

Baca juga: Huntara Dibangun untuk Korban Gempa dan Tsunami

Sebanyak 53.000 rumah prefabrikasi disediakan bagi korban. Rumah yang disebut kasetsu ini merupakan salah satu bagian dari program tanggap darurat pemerintah Jepang. Setiap rumah dibangun dengan luas 29,7 meter persegi.

Melansir Japan Times, rumah ini memiliki beberapa ruangan. Seperti dua buah ruangan tatami, satu buah dapur, dan satu buah kamar mandi.

Rumah sementara ini tidak memiliki ruang khusus yang digunakan sebagai tempat penyimpanan.

Dalam peraturan pemerintah yang disahkan pada 1947, rumah-rumah sementara ini tidak boleh ditempati selama lebih dari dua tahun.

Korea Selatan

Sebuah rumah kontainer dibangun bagi korban topan Ewiniar di Korea Selatan. Rumah kontainer ini dirancang dengan luas 20 meter persegi.

Uniknya, meski ditujukan sebagai rumah sementara untuk korban bencana, hunian dari kontainer ini mampu bertahan hingga 3 sampai 5 tahun.

Amerika Serikat

Rumah trailer, hunian sementara bagii korban badai KatrinaMariel Carr Rumah trailer, hunian sementara bagii korban badai Katrina
Bencana besar yang pernah mengahancurkan permukiman di Amerika Serikat adalah Badai Katrina pada 2005.

Badai tersebut memaksa lebih dari 770.000 penduduk di Louisiana dan Misisipi untuk mengungsi.

Baca juga: Pemerintah Prioritaskan Kualitas Huntap di Lokasi Rawan Gempa

Setelah badai, pemerintah setempat membeli sekitar 145.000 rumah trailer sebagai hunian sementara bagi korban badai.

Rumah trailer ini dapat bertahan hingga beberapa tahun karena terbuat dari rangka besi.

Melansir AOL, rumah ini tidak memenuhi standar untuk ditempatkan sebagai hunian sementara bagi korban badai dan banjir.

Lebih lanjut, rumah trailer ini bahkan menyebabkan beberapa penyakit seperti asma dan masalah pernapasan lainnya.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Terkini Lainnya

Kasus Meikarta, Potret Rumitnya Perizinan di Indonesia

Kasus Meikarta, Potret Rumitnya Perizinan di Indonesia

Berita
Samira Residence Terjual 70 Persen

Samira Residence Terjual 70 Persen

Perumahan
Tauzia Hotels Buka Jaringan di Manado

Tauzia Hotels Buka Jaringan di Manado

Hotel
Terkait Tapera, Pemerintah Fokus 3 Hal

Terkait Tapera, Pemerintah Fokus 3 Hal

Berita
Titian Penghubung Masyarakat yang Terisolasi

Titian Penghubung Masyarakat yang Terisolasi

BrandzView
Melihat Interior Stasiun MRT Senayan...

Melihat Interior Stasiun MRT Senayan...

Berita
Usulan Lengkap Tarif MRT Jakarta

Usulan Lengkap Tarif MRT Jakarta

Berita
Ridwan Kamil: Izin Meikarta Wewenang Pemkab Bekasi

Ridwan Kamil: Izin Meikarta Wewenang Pemkab Bekasi

Berita
Tarif MRT Jakarta Diklaim Lebih Murah Ketimbang Ojek Online

Tarif MRT Jakarta Diklaim Lebih Murah Ketimbang Ojek Online

Berita
Dua Usulan Tarif MRT Jakarta

Dua Usulan Tarif MRT Jakarta

Berita
Bisa Dicontoh, Desain Rumah Selebar 3,6 Meter

Bisa Dicontoh, Desain Rumah Selebar 3,6 Meter

Arsitektur
Sebelum Harga Naik, REI NTT Gelar Ekspo Rumah Terakhir 2018

Sebelum Harga Naik, REI NTT Gelar Ekspo Rumah Terakhir 2018

Hunian
29 IMB Meikarta Belum Disahkan

29 IMB Meikarta Belum Disahkan

Berita
Pemerintah Targetkan 231 Bendungan sampai 2019

Pemerintah Targetkan 231 Bendungan sampai 2019

Berita
Empat Tahun, Penumpang Angkutan Publik Terus Tumbuh

Empat Tahun, Penumpang Angkutan Publik Terus Tumbuh

Berita

Close Ads X