Tunggu Pemerintahan Baru, Investor Tunda Beli Apartemen Strata - Kompas.com

Tunggu Pemerintahan Baru, Investor Tunda Beli Apartemen Strata

Kompas.com - 04/10/2018, 16:00 WIB
Ilustrasi apartemen.vkyryl Ilustrasi apartemen.

JAKARTA, KOMPAS.com - Sejalan dengan daya serap perkantoran, perkembangan kondisi politik dalam negeri turut menjadi faktor penentu bagi masyarakat dalam membeli unit apartemen strata, terutama kalangan menengah atas yang hendak membeli apartemen untuk investasi.

Senior Associate Director Research Colliers International Indonesia Ferry Salanto mengatakan, sejak 2015, permintaan terhadap apartemen terus menurun. Meski sempat naik pada 2017, tetapi tidak signifikan.

Pada 2015, permintaan apartemen hanya 5.025 unit, sedangkan pada 2016 turun lebih dari separuhnya menjadi 2.148 unit. Kemudian, pada 2017 terjadi sedikit kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya menjadi 2.410 unit.

Adapun hingga kuartal III-2018, apartemen yang terserap baru sekitar 1.220 unit dari total pasokan sementara 4.494 unit.

"Calon pembeli cenderung akan menunggu atau menunda membeli properti sampai pemerintahan baru terbentuk," kata Ferry di Jakarta, Rabu (3/10/2018).

Faktor lainnya yaitu kondisi perekonomian yang kurang baik sehingga berdampak pada kenaikan harga rata-rata tahunan yang kurang signifikan.

Berbeda dengan medio 2011-2014 ketika kenaikan harga tahunan mencapai 16 persen, saat ini kenaikan harga sejak 2015-September 2018 hanya sekitar 3 persen per tahun.

Baca juga: Colliers: Penjualan Apartemen Turun, Pengembang Tunda Groundbreaking

Selain itu, Ferry menambahkan, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS juga turut memberikan dampak singkat hingga menengah terhadap kondisi pasar properti.

Belum lama ini, Bank Indonesia kembali menaikkan suku bunga BI 7-days repo rate menjadi 5,75 persen pada akhir September 2018. Hal ini membuat para investor pun menjadi berpikir ulang untuk berinvestasi.

"Ketika tingkat suku bunga naik, maka akan berdampak terhadap ongkos pinjaman dari bank yang lebih mahal dan pada akhirnya memengaruhi keputusan calon pembeli untuk membeli properti lewat KPR," ujar dia.

Lalu, bagaimana dengan masyarakat kelas menengah ke bawah?

Menurut Ferry, dua faktor di atas kurang memberikan dampak untuk masyarakat kelas ini. Pasalnya, tujuan mereka membeli apartemen bukanlah untuk berinvestasi, melainkan untuk ditinggali atau end user.

"Kalau menengah atas itu kan concern-nya bagaimana produk mereka bisa menghasilkan sesuatu. Pertanyaannya, investasi dengan kondisi seperti ini apakah bisa menghasilkan?" ucap dia.

Untuk menggairahkan minat pembeli kalangan ini, Ferry menambahkan, pemerintah perlu mendorong kemudahan akses terhadap sektor perbankan.

Dia mengatakan, dibandingkan dengan jumlah penduduk Jakarta, baik yang tinggal maupun komuter setiap hari, jumlah apartemen masih sedikit sekali. Di sisi lain, apartemen masih belum menjadi pilihan utama bagi mereka bila dibandingkan dengan hunian tapak.

"Kalau akses kepada perbankan diperluas, maka itu akan mendorong end user untuk beli apartemen, sekaligus jadi katalis pelemahan penjualan saat ini," tutup Ferry.



Close Ads X