Bukan di Hangzhou, Rumah Rp 2,8 Triliun Jack Ma Ada di Hongkong - Kompas.com

Bukan di Hangzhou, Rumah Rp 2,8 Triliun Jack Ma Ada di Hongkong

Kompas.com - 08/09/2018, 16:09 WIB
Perubahan rumah bernama The Peak milik Jack Ma di Hong Kong.KLS Planners Perubahan rumah bernama The Peak milik Jack Ma di Hong Kong.

KOMPAS.com – Konglomerat asal China, Jack Ma, berkunjung ke Indonesia pada minggu lalu dan tampil saat penutupan Asian Games 2018 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (2/9/2018).  

Dalam kesempatan itu, dia hadir sebagai perwakilan China dan memperkenalkan kota kelahirannya di Hangzhou yang akan menjadi lokasi penyelenggaraan Asian Games 2022.

Namun, ternyata bukan di kota itu Jack Ma memiliki rumah sebagai hasil dari gurita bisnisnya selama ini.

Dia malah membeli rumah di Hong Kong. Rumah itu diberi nama The Peak dan bernilai 1,5 miliar dollar Hongkong.

Jika dikonversi ke nilai rupiah sekarang ini, harganya sekitar Rp 2,8 triliun.  

Itulah mengapa rumah tersebut disebut sebagai rumah termahal di Asia.

Hong Kong Free Press mewartakan, pembelian rumah oleh pebisnis internet China itu dilaporkan memecahkan rekor di Asia untuk rumah paling mahal dari segi ukuran luasnya.

Perubahan rumah bernama The Peak milik Jack Ma di Hong Kong.KLS Planners Perubahan rumah bernama The Peak milik Jack Ma di Hong Kong.
Rumah yang berada di 22 Barker Road itu awalnya dibangun pada 1949, lalu direnovasi pada awal 2000 oleh arsitek lokal bernama Karl Shiu Ka-leung.

Jack Ma membeli rumah tersebut dari pasangan Francis Yuen Tin-fan, mantan Direktur Utama Bursa Efek Hong Kong, dan istrinya, Rose Lee Wai-mun, Direktur Eksekutif Hang Seng Bank.

Dengan harga 150.000 dollar Hong Kong atau Rp 285 juta per kaki persegi, rumah yang terdiri dari empat lantai itu menjadi yang tertinggi kedua di dunia setelah rumah di Nice, Perancis. Demikian menurut Hong Kong Economic Journal.

Yuen pernah merenovasi rumah itu sesudah membelinya dari Konsul Jenderal Belgia pada tahun 2000.

Julian, putra Karl Shiu, mengatakan, perubahan yang terjadi pada rumah itu menjadi proyek bersejarah dalam bangunan modern, dan hal itu dilakukan oleh Karl Shiu, arsitek dan perancang interior yang menghasilkan mahakarya membanggakan.

“Ayah saya sering berbicara tentang proyek itu dan dia membawa saya ke The Peak beberapa kali ketika saya masih kecil. Dia juga mendesain interiornya dengan gaya klasik modern,” ujar Julian, seperti dilansir Hong Kong Free Press.

Dia menambahkan, renovasi rumah ini memakan waktu dua hingga tiga tahun karena ada bahan bangunan yang didatangkan dari luar negeri dan perabotan yang dibuat khusus.

Untuk diketahui, Karl Shiu adalah pendiri KLS Planners. Karyanya banyak terdapat di Hongkong dan China. Dia meninggal pada tahun 2010 dalam usia 58 tahun setelah mengalami kecelakaan sepeda motor.

Pemandangan Pelabuhan Victoria dari rumah The Peak. KLS Planners Pemandangan Pelabuhan Victoria dari rumah The Peak.

Interior dan eksterior rumah

Shiu pernah mengatakan, rumah itu memiliki empat kamar tidur, tiga kamar mandi, dan tujuh ruang keluarga.

Dengan empat balkon besar di keempat lantainya dan teras beratap di lantai paling atas, penghuninya bisa menikmati pemandangan Pelabuhan Victoria dalam sudut 220 derajat.

Di sebelah rumah itu ada taman seluas lebih dari 1.800 meter persegi, di mana terhampar halaman rumput dan hutan kecil.

Menurut Shiu, dia menerapkan teori feng shui sesuai tradisi China dalam merancang interior griya itu.

Perubahan rumah bernama The Peak milik Jack Ma di Hong Kong.KLS Planners Perubahan rumah bernama The Peak milik Jack Ma di Hong Kong.
Keluarga Yuen pun menyukai perabotan yang ada di dalamnya dan nyaris tidak mengubah interior selama 15 tahun mereka tinggal di sana.

Bagian dalam rumah itu dilengkapi aneka barang dengan gaya perpaduan China dan Barat, sofa berbahan satin, lantai kotak-kotak berwarna hitam dan putih, serta gorden yang menjuntai hingga ke lantai.

Lantai paling atas rumah itu pernah ditampilkan dalam program “Super Home” di stasiun televisi Discovery Channel’s pada 2006.

Ketika itu, keluarga Yuen menyewakannya kepada seorang bankir.


Komentar
Close Ads X