Bisnis Desain Interior Tak Terpengaruh Pelemahan Rupiah

Kompas.com - 07/09/2018, 12:00 WIB
Ilustrasi ruang keluarga Ilustrasi ruang keluarga

JAKARTA, KOMPAS.com - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS tak selalu berdampak negatif.

Dalam bisnis interior, misalnya. Dari aspek produksi, pelemahan nilai tukar memang membuat bisnis ini terpukul. Pasalnya, 70 persen bahan material produk interior yang diproduksi di Indonesia masih impor.

Namun, dari sisi binsis desain interior, pelemahan tersebut justru dipandang dapat memberikan angin segar.

Baca juga: 70 Persen Bahan Material Produk Interior Diimpor

"Ketika krisis moneter, semua collapse, tapi desain justru tidak collapse," kata Ketua Umum Himpunan Desain Interior Indonesia (HDII) Lea Aziz di Jakarta, Kamis (6/9/2018).

Ia beralasan, tak sedikit pengusaha yang memindahkan kantornya saat krisis moneter terjadi untuk menghemat pengeluaran.

Ketika hal itu terjadi, biasanya para pengusaha tetap menghubungi desainer interior untuk menata kantor baru mereka.

"Mereka butuh desainer interior lagi. Dan sekarang memang desain interior itu tidak dipandang sebelah mata ya kalau saya lihat," tambah Lea.

Dalam sejumlah proyek yang digarap pemerintah, seperti gedung perkantoran atau bandara, tak jarang desainer interior dilibatkan di dalamnya. 

Meski ada arsitek yang juga bekerja di dalam tim tersebut, namun mereka hanya bertugas untuk mendesain arsitektur bangunan. Sementara, bagian dalam dari tata letak interiornya menjadi tugas desainer interior.

Lea bersyukur, keberadaan desainer interior di Indonesia cukup diperhatikan pemerintah melalui kebijakan proteksi. Hampir seluruh proyek pemerintah, melibatkan desainer interior lokal.

Kendati demikian, bukan berarti desainer lokal tak menghadapi tantangan di negeri sendiri. Tidak sedikit desainer interior asing yang kini mulai masuk ke dalam negeri, seperti dari Malaysia.

"Mereka masuk justru ke perusahaan-perusahaan asing (yang ada di Indonesia). Jadi perusahaan-perusahaan asing itu percaya juga dengan orang asing. Nah momen ini yang dimanfaatkan mereka," jelas Lea.

Ia pun berharap pemerintah dapat menerapkan regulasi yang lebih ketat. Dalam hal ini, pemerintah dapat mencontoh Vietnam, yang memberikan aturan ketat bagi desainer asing yang ingin beroperasi di negaranya.

"Jadi semua yang jadi partner orang Vietnam itu semua harus mengerti tentang building code, tentang ini, tentang itu, yang lama-lama akhirnya karena repot keluar aja," tuntas Lea.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X