Di Helsinki, Ada Museum Unik Bawah Tanah

Kompas.com - 01/09/2018, 15:14 WIB
Museum seluas 2.183 meter persegi ini dirancang oleh firma arsitektur asal Helsinki, JKMM. Tuomas UusheimoMuseum seluas 2.183 meter persegi ini dirancang oleh firma arsitektur asal Helsinki, JKMM.

KOMPAS.com - Pengunjung yang datang ke Lasipalatsi Square di Kota Helsinki akan menemukan sesuatu yang berbeda, yakni lima buah kubah semen dengan jendela di sisinya.

Kelima kubah tersebut bukanlah sebuah monumen, namun atap museum Amos Rex. Museum yang dibuka pada 30 Agustus 2018 ini merupakan tempat bagi karya seni kontemporer.

Pada awal pembukaannya, museum ini memajang karya instalasi para seniman Jepang.

Museum seluas 2.183 meter persegi ini dirancang oleh firma arsitektur asal Helsinki, JKMM. Pembangunannya menghabiskan dana sebesar 57 juta dollar AS.

Desain ruangan museum berbentuk layaknya labirin, tanpa satu pun pilar.

Atap museum dengan jendela besar yang berfungsi menyediakan pencahayaan alami di dalam museum. Tuomas Uusheimo Atap museum dengan jendela besar yang berfungsi menyediakan pencahayaan alami di dalam museum.
Pada bagian atap tampak beberapa jendela seperti pipa yang memungkinkan pengunjung dari luar untuk mengintip ke dalam ruang pameran.

Tim konstruksi juga harus menggali hingga 13.000 meter kubik batu dari dalam lahan yang akan digunakan.

Proyek ini dimulai sejak tahun 2013 saat Amos Aderson Art Museum mencari lokasi baru untuk menempatkan koleksinya.

Selama beberapa dekade, museum ini menempati ruang perkantoran yang dianggap kurang untuk menampilkan karya seni.

Pengelola museum awalnya akan menjadikan bekas bioskop di Helsinki sebagai tempa barunya. Namun tempat ini terlalu kecil untuk menampung pengunjung.

Kemudian, Asmo Jaaksi, pimpinan arsitek JKMM memiliki ide menarik untuk membuat museum yang berada enam meter di bawah tanah. Lokasinya berekatan dengan tempat bekas bioskop yang awalnya ingin digunakan.

Ruangan di dalam museum. Sinar matahari masuk ke dalam melalui jendea besar pada atap. Tuomas Uusheimo Ruangan di dalam museum. Sinar matahari masuk ke dalam melalui jendea besar pada atap.
"Satu-satunya tempat luang adalah lapangan terbuka ini," ujar Jaaksi seperti dikutip dari Architectural Digest.

Dia menambahkan, ide membangun ruangan museum di bawah tanah memang satu-satunya pilihan. Meski tempatnya tidak lazim, namun museum ini tetap mendapatkan cahaya matahari alami.

"Tantangan terbesarnya adalah bagaimana membuat museum ini terlihat," ucap Jaaksi.

Para arsitek kemudian merancang bangunan kubah sebagai atap museum. Kubah semen ini menjadi penanda bagi pengunjung dan warga sekitar akan keberadaan tempat ini.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X