Demi Ketahanan Pangan, Infrastruktur Air Jadi Prioritas - Kompas.com

Demi Ketahanan Pangan, Infrastruktur Air Jadi Prioritas

Kompas.com - 23/08/2018, 17:00 WIB
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono menyampaikan materi saat Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture (SML) XVIII di Auditorium LIPI, Jakarta, Kamis (23/8/2018).Dokumentasi Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPR Menteri PUPR Basuki Hadimuljono menyampaikan materi saat Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture (SML) XVIII di Auditorium LIPI, Jakarta, Kamis (23/8/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com – Pembangunan infrastruktur air merupakan salah satu prioritas Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) demi meningkatkan ketahanan air dan pangan.

Salah satu cara yang dilakukan yaitu meningkatkan rasio tampungan air dari 63 meter kubik per kapita per tahun pada 2014 menjadi 85 meter kubik per kapita per tahun pada 2019.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengemukakan hal ini saat memberi kuliah umum pada peringatan 51 tahun Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

“Selain itu, kami terus memperluas daerah irigasi teknik yang didukung pasokan air dari bendungan. Pada tahun 2014, luasnya 11 persen, dan terus ditingkatkan hingga menjadi 14 persen pada 2019,” ucap Basuki di Auditorium LIPI, Jakarta, Kamis (23/8/2018).

Baca juga: Bangun Infrastruktur, Pemerintah Perhatikan 3 Aspek Utama

Cara lain untuk meningkatkan ketahanan air dan pangan melalui pengendalian banjir yang dimulai dengan meredam puncak banjir di bendungan .

Menurut Basuki, pelaksanaannya harus terintegrasi sehingga hasilnya efektif. Karena itu, pemerintah saat ini fokus merevitalisasi 16 bendungan dan membangun 49 bendungan baru.

Jika bendungan-bendungan itu sudah dioperasikan, akan menambah daya tampung air dari 15 miliar meter kubik per tahun pada 2014 menjadi 20,5 miliar meter kubik per tahun pada 2019.

“Penambahan daya tampung air ini juga akan meningkatkan ketersediaan air baku menjadi 67,52 meter kubik per detik,” ujar Basuki.

Dia mengatakan, 80 persen suplai air di Indonesia saat ini digunakan untuk sektor pertanian. Optimalisasi ini juga bakal berdampak pada pemenuhan kebutuhan air untuk rumah tangga,  perkotaan, dan industri.  

Optimalisasi itu dilakukan dengan cara merehabilitasi daerah irigasi teknik yang memiliki luas 3 juta hektar. Tujuannya agar angka kehilangan air bisa menurun dan efisiensi penggunaan air meningkat.

Cara lain yang juga diterapkan yaitu pemanfaatan teknologi irigasi hemat air.

“Istilahnya system of rice intensification. Ini menggunakan pupuk organik, memanfaatkan sangat sedikit air, kayak bakmi nyemek, airnya tidak terlalu banyak,” tutup Basuki.



Close Ads X