Dua Aliran dalam Arsitektur Candi Jawa Timur - Kompas.com

Dua Aliran dalam Arsitektur Candi Jawa Timur

Kompas.com - 25/07/2018, 20:00 WIB
Wisatawan lokal menikmati keindahan Candi Brahu di kawasan situs arkeologi Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Minggu (6/1/2013). Situs Trowulan di Jawa Timur menyimpan sisa keagungan Kerajaan Majapahit yang hingga kini terus diteliti. Di kawasan ini, ditemukan ratusan ribu peninggalan arkeologis, berupa artefak, ekofak, dan fitur yang diperkirakan berasal dari abad ke-12 hingga abad ke-15. Dengan hamparan benda cagar budaya yang tersebar di berbagai lokasi, Trowulan menjadi laboratorium arkeologis terlengkap di pelosok Nusantara.
KOMPAS/AGUS SUSANTO Wisatawan lokal menikmati keindahan Candi Brahu di kawasan situs arkeologi Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Minggu (6/1/2013). Situs Trowulan di Jawa Timur menyimpan sisa keagungan Kerajaan Majapahit yang hingga kini terus diteliti. Di kawasan ini, ditemukan ratusan ribu peninggalan arkeologis, berupa artefak, ekofak, dan fitur yang diperkirakan berasal dari abad ke-12 hingga abad ke-15. Dengan hamparan benda cagar budaya yang tersebar di berbagai lokasi, Trowulan menjadi laboratorium arkeologis terlengkap di pelosok Nusantara.

KOMPAS.com - Banyak yang berpendapat arsitektur candi di Jawa Timur kurang terlihat ketika disandingkan dengan candi-candi di Jawa Tengah. Padahal arsitektur candi-candi di Jawa Timur memiliki keunikan tersendiri.

Arsitektur candi tak lepas dari peran kesenian dan budaya yang membentuknya. Secara politis daerah Jawa Timur mulai memegang peranan setelah Dinasti Syailendra di Jawa Tengah runtuh. Peristiwa ini membuat pusat pemerintahan pindah ke Jawa Timur.

Karya seni arsitektur Jawa Timur sendiri masih didominasi oleh ciri khas Jawa Tengah. Candi atau gapura pada abad ini masih berasal dari zaman Mpu Sindok di Jawa Tengah. Dalam zaman Airlangga dan Kediri juga belum banyak diketahui model arsitektur Jawa Timur.

Kemudian pada abad ke-13 ketika Kerajaan Singasari muncul, unsur-unsur pra Hindu mulai tampak jelas masuk ke dalam bidang kesenian. Abad ini juga dikenal sebagai titik tolak peninjauan bagi seni arsitektur di Jawa Timur.

Pada masa Kerajaan Singasari, mulai muncul dua aliran senin bangunan yang dimulai dari munculnya Candi Kidal dan Candi Jago. Kedua aliran ini selanjutya disebut dengan aliran Kidal dan aliran Jago.

Aliran Kidal

Ciri utama dari aliran ini adalah adanya usaha untuk meneruskan ciri arsitektur Jawa Tengah, meski dengan perubahan tertentu.

Atap candi alilran Kidal sendiri menjulang ke atas. Kemudian pada bagian pelipit di aats candi mengalami penambahan lapisan mendatar ke bawah.

Lapisan ini menyebabkan bagian pelipit menjadi lebih lebar dari yang diperlukan. Pada aliran ini, tubuh candi masih sama dengan model candi Jawa Tengah.

Lalu pada kaki candi memiliki bentuk yang lebih tinggi. Hal ini menambah kesan kerampingan dari candi beraliran Kidal, yang juga menjadi ciri utama arsitektur candi Jawa Timur.

Untuk gaya hiasan candi sendiri, pada aliran Kidal menggunakan tambahan baru seperti motif medalion, kala, dan hiasan pariyata.

Aliran Jago

Candi Jago di Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur saat diambil beberapa waktu lalu.Kontributor Malang, Andi Hartik Candi Jago di Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur saat diambil beberapa waktu lalu.

Aliran ini memiliki ciri utama sebagai pionir dalam arsitektur candi di Jawa Timur. Bila pada aliran Kidal, struktur candi masih memiliki ciri khas Jawa Tengah, namun pada aliran Jago ciri ini mulai dihilangkan.

Atap candi tidak terlatak di bagian paling atas, melainkan di bagian paling belakang. Sayangnya salah satu ciri ini sudah hilang dari Candi Jago.

Tubuh candi menjadi satu dengan struktur atap yang terletak di belakang. Sedangkan kaki candi terdiri dari dua lapis berbentuk teras berundak. Pada lapisan kedua teras terletak lebih menjorok ke belakang.

Perbedaan aliran Kidal dan Jago

Antara aliran Kidal dan Jago, perbedaan hanya terletak pada falsafah, gaya, dan bentuk. Pada aliran Kidal berpangkal pada dasar falsafah tradisional India dalam membangun bangunan “dewagraha”.

Bangunan candi tradisional gaya Hindu semuanya mengarah ke atas, karena merupakan representasi “dewagraha” serta replikai dari Mahameru atau Kailaca.

Sementara aliran Jago sendiri berpangkal pada falsafah pra Hindu di Indonesia yag menekankan pada pemujaan arwah leluhur. Aliran ini sendiri menekankan pada bentuk teras berundak sebagai tempat pemujaan.


Komentar
Close Ads X