Pengalaman Relijius di Pusat Peradaban Jakarta - Kompas.com

Pengalaman Relijius di Pusat Peradaban Jakarta

Kompas.com - 19/06/2018, 21:00 WIB
Nampak dari depan Gereja Katedral JakartaThinkstock Nampak dari depan Gereja Katedral Jakarta

BULAN lalu saya mendapat pengalaman luar biasa, yang semakin melekatkan cinta kepada Tanah Air ini. Sebuah pengalaman batin kecil yang didapat hanya dari menapaki beberapa sudut kota Jakarta.

Ibu kota lebih kejam dari ibu tiri. Itulah adagium yang selalu dikumandangkan. Seperti kota keras New York, Tokyo, London, Rio de Janeiro, Jakarta adalah kulminasi tekanan sosial, lambang keberagaman, sekaligus puncak usaha manusia untuk bertahan di tengah zaman urbanisasi.

Sudut-sudut Jakarta semakin terlihat berjuang keras untuk menciptakan vibrancy sebagai kota bagi warganya. Budayanya yang kosmopolitan menciptakan rona kota yang begitu memesona, terselip di antara keriuhan masyarakat yang keras, kompetitif dan beragam.

Nah, pada bulan lalu itu saya berjalan keliling Jakarta ke bagian pusat dan kota tua, untuk napak tilas ke beberapa lokasi patung Bunda Maria. Ziarah atau napak tilas beberapa patung Maria sebagai lambang rahmat Allah.

Umat Katolik menghormati Bunda Maria secara khusus karena peran istimewanya sebagai ibu Yesus, seorang ibu yang dipenuhi rahmat Allah dalam dirinya. Adorasi terhadap Bunda Maria merupakan wujud cinta dan iman, sekaligus menjadi sebuat tradisi bagi masyarakat penganut Katolik.

Hari Selasa, Mei itu bertepatan dengan hari raya Trisuci Waisak, atau Vesakha, di mana umat memperingati tiga peristiwa penting yaitu kelahiran Pangeran Sidharta Gautama, tercapainya penerangan sempurna oleh pertapa Gautama, dan mangkatnya sang Budha Gautama.

Kelahiran, penerangan dan kematian pada bulan purnama, sebuah peristiwa religi nan indah dan khusyuk.

Suasana jelang perayaan Hari Raya Imlek di Wihara Dharma Bhakti, Petak Sembilan, Glodok, Jakarta Barat pada Senin (12/2/2018). RIMA WAHYUNINGRUM Suasana jelang perayaan Hari Raya Imlek di Wihara Dharma Bhakti, Petak Sembilan, Glodok, Jakarta Barat pada Senin (12/2/2018).
Hari itu juga adalah dimulainya bulan ibadah Ramadhan. Bulan yang baik dengan keberkahan Ramadhan, yaitu saat diturunkannya Al-quran, amal sholeh yang berlipat ganda, bulan penuh keberkahan, bulan pengampunan dosa, pintu surga dibuka, mendidik untuk mencapai ketakwaan, dan Quran turun pada malam Lailatul Qadar. Bulan yang syahdu dan penuh keberkahan. 

Napak tilas gereja, pada hari Waisak, dalam bulan Ramadhan. Terima kasih atas kemewahan ini.

Hari itu terasa lebih bermakna lagi karena cerah ceria, liburan menurunkan emisi dari kendaraan-kendaraan motor dan mobil pribadi yang sehari-hari sesak padat.

Menurut laporan Greenpeace, pada semester pertama 2016 tingkat polusi udara Jakarta berada pada level 4.5 kali ambang batas yang ditentukan World Health Organization (WHO) dan tiga kali di atas ambang standar pemerintah Indonesia.

Index Standar Pencemaran Udara (ISPU) 0-50 (hijau) artinya tergolong baik, 51-100 biru, 101-199 kuning (tidak sehat), 200-299 merah (sangat tidak sehat) dan hitam (diatas 300) berbahaya. Kota Jakarta di level ISPU sehat bila hanya berkisar 70 sampai 80 hari dalam satu tahun.

Mungkin hari Selasa itu salah satu dari hari tersebut. Hari begitu indah, matahari terang dan langit biru dapat terlihat.

Jakarta Kulminasi Kota Kosmopolis

Kami berjalan mengunjungi gereja Santa Maria de Fatima di Petak Sembilan, kawasan Kota. Tepatnya di jalan Kemenangan 3, gereja indah dengan arsitektur China dan peranakan, berada ditengah-tengah kawasan pecinan. 

Warga berbuka puasa bersama di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Jumat (18/5/2018). Pengurus Masjid Istiqlal setiap hari menyiapkan 4.000 nasi bungkus dan takjil untuk berbuka puasa selama Ramadhan.KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG Warga berbuka puasa bersama di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Jumat (18/5/2018). Pengurus Masjid Istiqlal setiap hari menyiapkan 4.000 nasi bungkus dan takjil untuk berbuka puasa selama Ramadhan.
Gereja dikelilingi oleh dominasi perumahan peranakan, di antara kuil dan vihara bersejarah utama Jakarta yaitu kuil TaoSeBio, vihara Dharma Bhakti dan Kelenteng Jin De Yuan.

Suasana hari Waisak, rona merah di mana-mana dengan kepulan asap dupa dan keramahan warung mie khas pecinan, membawa alam pikiran ke zaman peranakan yang bedominasi kawasan kota lama Batavia. Sungguh indah permata kota Jakarta ini.

Patung Bunda Maria pun bersolek mirip dewi Kwan Im, hadir dalam dekorasi dan budaya China yang menyatu dengan umat. Indahnya.

Perjalanan napak tilas kami lanjutkan ke kapel biara Ursulin Santa Maria. Terletak di dalam kompleks Sekolah Kejuruan Pariwisata St. Maria di jalan Juanda, biara ini adalah bagian penting sudut kota yang lekat dengan budaya Belanda.

GerejaBernardus Djonoputro Gereja
Sejarah biara ini berawal pada 7 Februari 1856, rombongan 7 biarawati Ursulin tiba di Batavia dengan kapal Hermaan.

Mereka kemudian tinggal di Noordwijk Straat 29 (sekarang Jl Juanda 29), di bagian kawasan kota Batavia berpengaruh di bekas benteng Rijswijk yang diperbaiki Mayor Schultze atas perintah Daendels tahun 1810.

Lokasi berseberangan dengan Harmonie, kawasan dinamis tempat berkumpulnya para sosialita Belanda zaman itu. 

Berjalan sedikit ke arah timur, kita menyusuri kawasan Pasar Baru dan Pintu Air. Kawasan perdagangan sejak 1820 yang kini ramai dengan pemukiman orang India. Jejak kota dagang yang sibuk tetap terjaga hingga kini, memberikan nuansa energik kota dagang dunia. 

Masih nampak bayangan indahnya masa ketika kanal Moelenvliet (saking indahnya karena banyak kincir air), dan sistem pintu-pintu air (sluisburg) di kiri jalan Pintu Air. Di sini pula dahulu tinggal para petinggi Belanda, dan berdiri Capitol Theatre tepat di depan Istiqlal.

Ilustrasi kemacetan jakartaArimbi Ramadhiani Ilustrasi kemacetan jakarta
Napak tilas kami pun berakhir di Katedral Santa Maria Pelindung Diangkat Ke Surga. Sebuah karya arsitektur neo-gotik didirikan tahun 1901,  oleh perancang pastor Antonius Dijkman. Gereja yang sekarang berdiri di atas lokasi gereja asli tahun 1810, yang terbakar tahun 1826 bersama 180 rumah penduduk setempat.

Gereja indah ini berlokasi tepat berdampingan dengan masjid terbesar di Asia Tenggara, Istiqlal, yang berdiri megah di bekas Taman Wilhelmina dengan desain arsitektur modern berornamen geometrik dari baja antikarat.

Dengan daya tampung 200.000 umat, masjid karya arsitek Frederich Silaban ini tampak begitu berwibawa.

GerejaBernardus Djonoputro Gereja
Semua kita mafhum, simbolisasi persandingan Istiqlal dan Katedral begitu tegar dan pasti.

Sambil memandangi patung Bunda di Katedral, saya semakin menyukuri indahnya kota Jakarta dalam segala kekiniannya.

Patung Bunda Maria di Katedral cantik memandang kita dengan damai, berbalut kebaya batik kreasi Anne Avanti, membuatnya semakin anggun dan bermakna. Damai.

Jakarta adalah kulminasi dari sejarah, budaya, tradisi dan keragaman. Wajar bagi warga menjadi gundah, bila ada yang ingin mengusik kota Jakarta. 

Terima kasih Jakarta, kota yang mengajarkan keragaman. Yuk, menapak di Jakarta.


Terkini Lainnya


Close Ads X