Bourdain, Kota, dan Kita - Kompas.com

Bourdain, Kota, dan Kita

Kompas.com - 12/06/2018, 07:38 WIB
Anthony Bourdain saat di Vietnam. CNN Travel Anthony Bourdain saat di Vietnam.

BERITA sedih itu hadir pada saat tak disangka, di depan kita, Anthony Bourdain sang koki nakal, bintang rock-nya dunia kuliner, ditemukan meninggal dunia di kamarnya.

Kota Kayserberg, satu jam dari Strasbrough di timur Perancis tempatnya bermalam pun mendunia seketika melalui daring dan siaran CNN. Kota di wilayah perkebunan anggur ini tahun 2017 dinobatkan sebagai France Favourite Village.

Tony, telah membuka mata dunia dari sisi pandang baru, ketika dia mulai memperkenalkan kuliner melalui kaitannya dengan negara, kota dan kemanusiaan.

Kehadirannya dalam 142 episode "Anthony Bourdain: No Reservation" di Travel Channel, dan 93 episode "Anthony Bourdain: Parts Unknown" di CNN, membawa cita rasa makanan khas suatu daerah ke ruang-ruang keluarga dunia.

Dengan konsep dasar pertanyaan sederhana: "Apa yang membuat anda bahagia?" dan "Apa yang kamu suka dari makan dan masak?", Tony memperlihatkan kepada kita berbagai jawaban mempesona.

Dibalut semangat petualang sejati, kita dibawa ke dalam diskursus menarik mengenai lokasi-lokasi menarik sambil lekat dengan advokasi tentang masyarakat terpinggirkan, khas Tony.

Dari tukang es campur kaki lima, mie bakso Vietnam dengan Presiden Obama, minum bir hitam di tempat konflik The Trouble pasca konflik Irlandia di Belfast, menikmati masakan Michelin 3 termahal, maupun warung babi guling di Bali. Kuliner mampu menjembatani usaha kita mengenal lebih jauh jejak-jejak sejarah.

Dalam "An Edible History of Humanity", Tom Standage menulis bahwa makanan membangun peradaban dunia, sejak jaman dimulainya pertanian 11,000 tahun lalu dalam bentuk yang paling mendasar untuk satuan keluarga.

Sampai sekarang kuliner menjadi bagian peradaban dunia dengan "paradoks keberlimpahan" di mana teknologi hadir untuk mengatur makanan dunia dengan biaya mahal terancamnya kualitas lingkungan.

Pada masa awal masyarakat agraris, struktur sosial masyarakat terbentuk berdasarkan rantai produksi makanan. Sebagian masyarakat fokus bertani, yang lainnya kegiatan mendukung pertanian, dan berkembang seiring jaman menciptakan stratifikasi kelas masyarakat. Di sini pula terbentuk aglomerasi kekuasaan dengan menguasai akses kepada makanan.

Tanah-tanah pertanian terus berkembang, dan pembukaan tanah-tanah baru serta berkembang nya jalur-jalur perdagangan semakin membentuk ruang hidup manusia. Kota-kota pun berkembang dengan masyarakatnya dalam bingkai ini.

Di sinilah kejelian Tony Bourdain dalam mengekspresikan kepedulian dan pesan-pesan penting nya. Maka kita pun dapat belajar mendalami bukan saja suasana sebuah kota, namun jejak-jejak peradaban dan perjuangan warganya.

Kita pun berterima kasih kepada Tony untuk ekspresi yang sangat natural dan jujur tentang rasa, hidup, dan bermasyarakat di kota.

Kota Gaza dan Tepi Barat, konflik terus berlangsung, namun kehidupan warga tetap berjalan dengan budaya kuliner dan sejarah yang panjang.

Kota Johanesburg di Afrika Selatan dulu adalah kota paling berbahaya didunia, sekarang bahkan tidak masuk daftar 50. Selesainya politik apartheid membuat kota Jo-burg perlahan menjadi ibukota kuliner Afrika.

Masyarakat kosmopolitan terlihat dari cafe-cafe Somali dan Eritrea, warung piri-piri khas Mozambik, restoran Ghana, menyajikan ragam budaya ini melalui udang rempah, injeera dengan ayam, dan baasto (pasta khas Somalia).

Ishikawa perfecture, di pantai utara pulau Honshu diperkenalkan sebagai asal Niotaymori atau "sushi telanjang". Kota tenang ini di menjadi ikon seni kontemporer Jepang Kunai-Yaki atau porselen merah. Kota berkembang berasal dari aglomerasi kekuasaan rejim Maeda dari keluarga Kaga jaman kekaisaran Edo (1603-1868). 

Pada periode 2017 liputan tentang Suku Hausa membuka mata kita tentang kota Lagos di Nigeria. Melaui makanan khas kue ketan Masa, fura (milk compote),  danwake (semacam siomay dengan tomat), moringga salad dengan saus kuli-kuli (kacang).

Suku Hausa berasal dari bagian utara Nigeria dan telah lebih dari 5,000 tahun menempati bagian-bagian Sahara dan Afrika Barat, membentuk kota-kota multi etnik dan kosmopolitan Afrika. Sebagai masyarakat muslim, bahasa Hausa menjadi lingua-franca bagi muslim non-Hausa.

Masih banyak lagi kota-kota yang dijelajahi.

Kota, kuliner dan kita, menjadi lekat dalam membentuk peradaban. Kota sebagai ruang hidup, menjadi wadah sekaligus saksi sejarah peradaban yang terus berkembang. Banyak yang kita bisa belajar dari perjalanan panjang Tony. 

Menyusuri jejak kuliner niscaya akan membawa kita mengerti lebih dalam kota kita. Mengenal kota kita, tentu akan memudahkan kita untuk mempromosikannya dan semoga suatu saat menjadi "lingua-franca" kalangan kuliner dunia.

Selamat jalan Tony, kami pasti merindukan sapaan-sapaan nakalmu di layar ruang keluarga kami.


Close Ads X