Kawasan Puncak Tak Pernah "Low Season", Cocok untuk Bisnis Kondominium - Kompas.com

Kawasan Puncak Tak Pernah "Low Season", Cocok untuk Bisnis Kondominium

Kompas.com - 11/06/2018, 14:06 WIB
Antrian kendaraan terjadi di Simpang Gadog, Ciawi, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (10/12/2016).Kontributor Bogor, Ramdhan Triyadi Bempah Antrian kendaraan terjadi di Simpang Gadog, Ciawi, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (10/12/2016).

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Pemasaran Mountain Park Condominium Ratdi Gunawan menjamin 7 tahun investasi di sektor kondominium di kawasan wisata bisa mencapai modal dari nilai sewanya. Kamar hotel di kawasan wisata Gadog, Puncak, Jawa Barat, misalnya, memiliki potensi sewa 15 persen per tahun. 

"Sebagai contoh potensi sewanya Rp 5 juta per bulan atau Rp 50 juta per tahun dibagi investasi mulai Rp 300 jutaan. Bisa lebih dari itu, kami optimistis, karena kawasan wisata Puncak tidak kenal kata low season," ujar Ratdi usai pemaparan proyek Mountain Park Condominium, Senin (11/6/2018).  

Menurut Ratdi, berinvestasi pada kondominium sangat potensial mengingat lokasi kawasan wisata yang satu ini memang tidak mengenal kata sepi. Lokasinya juga mudah dijangkau dari Jabodetabek, karena ada banyak akses masuk ke kawasan wisata ini.

"Pertama dekat dari Jakarta, meskipun macet. Setiap akhir pekan mana pernah Puncak sepi. Kedua, udara dan pemandangannya masih jadi andalan sehingga alasan orang ke Puncak terutama karena dua hal itu," ucap Ratdi.

Lokasi Mountain Park Condominium sendiri ada di kawasan Gadog yang hanya 3 kilometer dari akses tol Puncak atau Taman Safari. Proyek kondominium ini rencananya dibangun oleh Vins Panca Anugerah yang berpengalaman pada bisnis hotel bintang lima di kawasan Puncak, yaitu Royal Tulip Gunung Geulis Resort & Golf dan hotel bintang empat di Seminyak, Bali.

Dari contoh menangani Royal Tulip Gunung Geulis, lanjut Ratdi, Vins Panca bisa meraih harga sewa kamar per malam Rp 2 juta. Capaian tersebut didapatkan dari wisatawan yang datang ke puncak setiap pekan hingga libur panjang.

Rencananya, papar Ratdi, pihaknya akan mengembangkan 5 tower kondominium eksklusif. Dengan harga perdana Rp 300 jutaan dan angsuran uang muka Rp 3 jutaan per bulan.

"Kami buat unitnya terbatas, sementara target pasarnya di sini besar. Kalau tingkat hunian tinggi dan nilai sewa dan return investment yang tinggi, balik modalnya akan cepat," kata Ratdi.

Ratdi menambahkan, seiring peningkatan pertumbuhan ekonomi tahun ini, bisnis properti pun diyakini juga bakal terkena imbasnya, tak terkecuali pada sektor kondominium. Meskipun ada guncangan politik lantaran saat ini kontestasi pilkada serentak 2018 dihadapi, namun tidak akan memberikan pengaruh besar.


EditorLatief
Komentar
Close Ads X