Rupiah Melemah, Ini Pengaruhnya Pada Bisnis Properti

Kompas.com - 05/06/2018, 21:58 WIB
Ilustrasi.shutterstock Ilustrasi.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pelemahan nilai rupiah terhadap dollar AS belakangan ini sedikit banyak memberi pengaruh terhadap bisnis properti di Tanah Air.  

Menurut Direktur PT Ciputra Development Tbk Nanik J Santoso, ada dua pengaruh utama akibat pelemahan itu, yang pertama pada kenaikan biaya pembangunan atau konstruksi.

Hal itu terutama dialami pembangunan proyek properti vertikal, antara lain berupa apartemen, perkantoran, dan pusat perbelanjaan.

“Pengaruhnya pertama ke biaya pembangunan, yang lebih kena itu ke high rise karena pembelian komponennya menggunakan dollar AS cukup besar,” kata Nanik seusai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan 2018 di Jakarta, Senin (4/6/2018).

Sebagai contoh, pembelian besi karena itu merupakan komoditas dengan harga dollar AS, kemudian peralatan mekanik dan elektrik yang harus diimpor.

Namun, ujarnya, untuk pembangunan landed house (rumah tapak) tidak terlalu besar pengaruhnya.

“Pengaruh kedua terhadap confidence konsumen. Mereka cenderung menunda pembelian, duitnya dipegang dulu,” imbuh Nanik.

Menurut dia, untuk orang yang memegang banyak uang dollar AS semestinya sekarang lebih terkontrol. Sebab, sekarang mereka bisa membeli maksimum 25.000 dollar AS.

“Jadi tidak bebas lagi kayak dulu. Pelemahan rupiah sekarang karena investor asing jual bond, saham, dan lain-lain,” ucapnya.

Namun, menurut dia sebenarnya kondisi penjualan sekarang tidak terlalu buruk meski memang tidak sebaik penjualan tahun 2011.

“Sebetulnya sekarang enggak jelek-jelek amat, memang enggak semudah tahun 2011 yang bisa menjual apa saja dan laku. Sekarang ini kami harus menggunakan segala inovasi,” kata Nanik.

Meski demikian, Nanik tetap optimistis bisnis properti tahun ini berjalan dengan baik. Dia menganggap seperti itulah bisnis yang normal, harus ada usaha yang dilakukan. Pengembang mesti menghasilkan produk yang bagus agar bisa bersaing.




Close Ads X