Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pengamanan Asian Games, 100.000 Petugas hingga Mesin Pendeteksi Wajah

Kompas.com, 15 Mei 2018, 20:56 WIB
Dani Prabowo,
Hilda B Alexander

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengamanan maksimum disiapkan pemerintah dalam menghadapi Asian Games 2018. Tak hanya dari sisi personel keamanan saja, tetapi juga venue pertandingan.

Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, aksi teror yang dilancarkan kelompok teroris beberapa waktu terakhir, kemungkinan akan berdampak terhadap perhelatan kegiatan olahraga terbesar kedua setelah olimpiade ini.

"Karena orang asing itu sama seperti kita," kata Kalla di Jakarta, Selasa (15/5/2018).

Baca juga: H-95 Asian Games, Wapres Pastikan Semua Venue Selesai Juni

Aksi teror di Pakistan, ia mencontohkan, meski terjadi di ujung negara tersebut dan bukan di ibu kotanya, Islamabad, tapi banyak orang takut untuk pergi ke sana.

"Sama dengan ini, Asian Games di Jakarta-Palembang, (aksi teror terjadi) di Depok, di Surabaya, tapi kadang-kadang orang asing tidak tahu membedakannya itu," tutur Kalla.

Wakil Presiden RI Jusuf Kalla ketika ditemui di kantor Wakil Presiden RI, Jakarta, Selasa (8/5/2018).KOMPAS.com/ MOH NADLIR Wakil Presiden RI Jusuf Kalla ketika ditemui di kantor Wakil Presiden RI, Jakarta, Selasa (8/5/2018).
Namun, politisi senior Partai Golkar itu meyakinkan, Asian Games yang akan digelar pada 18 Agustus hingga 2 September 2018 itu berlangsung aman.

Aparat keamanan, mulai dari kepolisian, TNI dan Badan Intelijen Negara (BIN) akan memastikan perhelatan yang diikuti sekitar 15.000 atlet dan ofisial ini berlangsung kondusif.

"Polisi menyiapkan 100.000 pasukan bersama TNI. Jauh lebih banyak (personel) keamanan dari pada atlet. Lima kali lipat. Baik keseluruhan maupun personal dijaga, untuk cegah Jakarta ada terorisme," beber Kalla, Minggu (13/5/2018).

Asisten Operasi Kapolri Irjen Deden Juhara mengatakan, Polri akan menggelar Operasi Among Raga 2018 selama 16 hari pelaksanaan Asian Games.

Meski Asian Games hanya dilakukan di tiga provinsi, yaitu Jakarta, Sumatera Selatan dan Jawa Barat, namun untuk operasi ini akan melibatkan 18 kepolisian daerah.

Hal itu dilakukan karena adanya pawai obor yang dimulai 15 Juli hingga 18 Agustus atau saat perhelatan tersebut dibuka.

"Nantinya operasi tersebut akan mengedepankan kegiatan preemtif dan preventif, didukung kegiatan intelijen dan penegakkan hukum," kata Deden.

Suasana tribun penonton saat menyaksikan laga persahabatan antara Indonesia melawan Islandia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (14/1). Pertandingan tersebut menandai peresmian renovasi SUGBK yang dipersiapkan untuk menyambut Asian Games XVIII Agustus mendatang. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/foc/18.PUSPA PERWITASARI Suasana tribun penonton saat menyaksikan laga persahabatan antara Indonesia melawan Islandia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (14/1). Pertandingan tersebut menandai peresmian renovasi SUGBK yang dipersiapkan untuk menyambut Asian Games XVIII Agustus mendatang. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/foc/18.
Pengamanan venue

Sementara itu, salah satu venue pertandingan yang akan memiliki pengamanan super ketat yaitu Stadion Utama Gelora Bung Karno (SU GBK).

Hal ini cukup mahfum karena stadion berkapasitas 76.000 penonton ini menjadi lokasi upacara pembukaan dan penutupan Asian Games 2018.

Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Sri Hartoyo mengatakan, SU GBK akan dilengkapi dengan sistem kamera CCTV yang memiliki kemampuan mendeteksi wajah atau face recognition.

"Ada di stadion utama, di venue lain enggak ada," kata Sri menjawab pertanyaan Kompas.com.

Mengutip data pengelola SU GBK, sistem keamanan yang canggih tersebut merupakan CCTV 7K. Selain mampu menganalisa wajah, juga menganalisa tingkah laku seseorang yang diduga hendak berbuat kejahatan.

Dilansir dari laman NEC, teknologi kamera pengenalan wajah pada umumnya memiliki tiga fitur utama, yaitu teknologi pendeteksi, teknologi ekstraksi fitur titik, dan teknologi pencocokan wajah.

Teknologi deteksi wajah mendeteksi 'posisi wajah' dalam gambar. Sementara teknologi esktraksi fitur bertugas menemukan 'posisi titik fitur wajah' seperti pupil, titik subnasal, dan sudut bibir.

Adapun teknologi pencocokan wajah bertugas untuk menentukan 'identitas' dari wajah yang telah terdeteksi sebelumnya, dengan mencocokkan pada database yang dimiliki.

Presiden Joko Widodo (ketiga kiri) didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla (keempat kiri) menyaksikan laga persahabatan antara Timnas Indonesia melawan Islandia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (14/1). Pertandingan tersebut menandai peresmian renovasi SUGBK yang dipersiapkan untuk menyambut Asian Games XVIII Agustus mendatang. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/foc/18.PUSPA PERWITASARI Presiden Joko Widodo (ketiga kiri) didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla (keempat kiri) menyaksikan laga persahabatan antara Timnas Indonesia melawan Islandia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (14/1). Pertandingan tersebut menandai peresmian renovasi SUGBK yang dipersiapkan untuk menyambut Asian Games XVIII Agustus mendatang. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/foc/18.
Di samping teknologi canggih tersebut, SU GBK juga dilengkapi dengan kaca antipeluru terutama untuk area VVIP yang menjadi lokasi presiden dan tamu negara menyaksikan pertandingan.

Kaca antipeluru ini mampu menahan muntahan peluru sniper AW 10 dengan kaliber 7,62.

Selain itu, SU GBK yang juga telah mengantongi sertifikat sistem keamanan berstandar FIFA ini, memiliki kemampuan untuk dapat dikosongkan hanya dalam waktu 15 menit bila dalam kondisi darurat.

Mudahnya proses evakuasi ini tidak terlepas dari adanya automatic exit gate yang dapat digunakan dalam kondisi darurat.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.

Baca tentang


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau