Kebutuhan Rumah Lansia di Asia Meningkat - Kompas.com

Kebutuhan Rumah Lansia di Asia Meningkat

Kompas.com - 15/05/2018, 11:00 WIB
Rumah ramah lansia
Ryan Gamma via New Atlas Rumah ramah lansia

KOMPAS.com - Sejumlah negara di Asia saat ini tengah menghadapi krisis meningkatnya jumlah lansia. Hal itu menyusul rendahnya tingkat kelahiran.

Imbasnya, kebutuhan atas hunian bagi lansia pun akan meningkat seiring dengan laju pertumbuhan jumlah kelompok ini di Asia.

Colliers International mengidentifikasi adanya tren kunci dalam demografi kelompok penduduk ini di Asia.

Baca juga: CEO Toko Konstruksi Didapuk Jadi Perempuan Paling Sukses di Asia

Selain itu, meningkatnya produk rumah inovatif yang dikhususkan bagi kelompok masyarakat ini di seluruh dunia, juga dapat diterapkan di benua ini.

Dari hasil riset, diperkirakan kelompok masyarakat usia tua di atas 65 tahun akan meningkat hingga tiga kali lipat pada 2050 menjadi 945 juta jiwa. Sementara, jumlah masyarakat yang berusia di atas 75 tahun akan melonjak dari 137 juta menjadi 437 juta.

Kelompok usia tua tertinggi akan didapati di Jepang (36,4 persen), Korea Selatan (35,3 persen), Hong Kong (33,9 persen), Singapura (33,6 persen) dan Thailand (29 persen).

Dalam beberapa waktu terakhir, ada empat perumahan lansia yang mulai tumbuh, seperti perumahan yang dikhususkan bagi lansia aktif, pemberian perawatan di rumah, fasilitas perbantuan di rumah, dan menghadirkan perawat di rumah.

Negara-negara di Asia dapat melirik Amerika Serikat yang kini telah memiliki sistem perumahan terintegrasi bagi lansia.

Continuing Care Retirement Community (CCRC), misalnya, telah memberikan kenyamanan yang lebih besar bagi para manula ini karena mereka memberikan perawatan penuh yang berkesinambungan.

Para manula bisa terus hidup mandiri dan saling membantu. Bahkan di dalam satu komunitas yang luas, ada pula fasilitas rekreasi, sosial, medis dan perawatan yang ditawarkan.

Fasilitas CCRC di Amerika tergantung pada biaya pendaftaran dan biaya bulanan yang disetorkan.

Selain itu ada pula Deferred Management Fee (DMF) yang diterapkan di Inggris dan Australia. Di sini, kelompok usia manula memiliki kesempatan untuk membeli rumah baik berstatus freehold atau sewa dengan bunga rendah di bawah bunga pasar, serta membayar biaya bulanan yang relatif rendah bila memerlukan pelayanan.

Model pembiayaan yang paling inovatif dan meniarik bagi manula, yaitu keluarga dan pengembang membuat rencana perawatan jiwa yang lebih tinggi namun bisa menjamin porsi yang cukup signifikan.

"Itu bisa 90 persen dalam beberapa kasus bisa dikembalikan lagi ke senior atau ahli waris mereka," kata Managing Director Valuation and Advisory Colliers International Asia, David Faulkner.

Di Asia sendiri, sudah menjadi tradisi bila anak-anak yang memiliki tingkat perekonomian yang lebih matang, merawat orang tua yang sudah lanjut usia. Baik itu dengan menyewa jasa perawat atau menyediakan fasilitas yang mereka perlukan.

Namun, norma-norma ini mungkin akan berubah karena adanya perubahan tren perpindahan, di mana anak-anak meninggalkan orang tua mereka di negara atau kampung halaman mereka.

Oleh sebab itu, permintaan atas perumahan yang menyediakan jasa perawatn, berpotensi cenderung tumbuh.

Pemerintah dan pengembang harus fokus pada perluasan berbagai opsi perumahan lansia untuk kelas menengah, segmen yang memang berkembang pesat di negara-negara Asia.

"Di saat harga properti melonjak, masyarakat segmen ini mungkin tidak memiliki akses subsidi yang memadai atau fasilitas umum untuk perawatan lansia. Namun, bisa jadi dari harga penawaran pribadi yang lebih mahal," kata Faulkner.


Komentar
Close Ads X