Karena Donald Trump, Harga Rumah di Perbatasan Korut Melonjak 50 Persen - Kompas.com

Karena Donald Trump, Harga Rumah di Perbatasan Korut Melonjak 50 Persen

Kompas.com - 11/05/2018, 14:00 WIB
Ilustrasi rumah kecilKatarzynaBialasiewicz Ilustrasi rumah kecil

KOMPAS.com - Sebuah kota perbatasan Korea Utara tiba-tiba menjadi pasar properti panas yang baru bagi pengusaha China.

Penjualan rumah baru di Dandong, yang terletak di seberang Sungai Yalu dari Korea Utara dan merupakan pusat perdagangan antara kedua negara, melonjak sampai seluas 320.000 meter persegi pada Maret lalu.

Hal ini, terutama terjadi ketika Presiden AS Donald Trump mengumumkan dia akan mengadakan pertemuan yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.

Pertemuan ini kemudian diikuti dengan kunjungan mendadak Kim ke Beijing.

Penjualan bertahan di angka 290.000 meter persegi selama April, menurut data dari China Real Estate Information Corp, ketika Kim melakukan kunjungan pertama yang bersejarah sebagai pemimpin Korea Utara ke Korea Selatan.

Dia berjanji untuk mengakhiri program senjata nuklirnya, yang dapat menyebabkan pencabutan sanksi ekonomi yang melumpuhkan.

"Dua negara Korea berjabat tangan, dan (harga rumah) Dandong naik!" tulis slogan sebuah agen real estat Zhao Ziye di kota perbatasan, di mana layar TV memutar ulang rekaman kunjungan Kim ke Beijing.

Seperti diketahui, kunjungan Kim tersebut adalah perjalanan pertamanya ke luar negeri sejak mengambil alih kekuasaan pada tahun 2011.

Bisnis pun berangsung sangat cepat yang menyebabkan pemilik Zhao Ziye, Zhao mengatakan dia mencoba untuk mempekerjakan setidaknya lima agen lagi.

Pembukaan ekonomi apa pun oleh Korea Utara dapat menguntungkan kota perbatasan yang ditinggali oleh 2,4 juta orang, dan terletak 840 km dari Beijing atau 160 km dari Pyongyang.

Sebagian besar perdagangan antara kedua negara, baik legal maupun ilegal, mengalir melalui Dandong.

Menanggapi permintaan properti yang melonjak, pengembang telah menaikkan harga hingga lebih dari 50 persen di beberapa kompleks perumahan baru di Dandong New District.

Kompleks tersebut merupakan area seluas 127 kilometer persegi yang dibangun dari nol sebagai hub perdagangan China-Korea Utara.

Sementara pengembang lainnya telah menghentikan penjualan untuk bertaruh pada keuntungan yang lebih besar di masa depan.

"Sebagian besar pembeli di Dandong New District adalah spekulan. Inilah akar penyebab kenaikan harga rumah yang meroket di sana," kata manajer umum Cushman & Wakefield Jason Cheung, yang mengawasi bisnis makelar di Dalian dan Shenyang.

Meskipun tidak ada data resmi yang menunjukkan berapa banyak rumah di kota tersebut yang harganya naik sejak pemulihan hubungan baru Korea Utara, pertumbuhan harga di Dandong secara historis lamban.

Harga naik 4,1 persen pada Maret dari tahun sebelumnya, di bawah rata-rata 6,8 persen di antara kota-kota berukuran serupa.

Lonjakan permintaan menggambarkan tantangan ke depan bagi para pejabat China, yang berusaha untuk menjinakkan gelembung harga rumah tanpa membanjiri seluruh perekonomian.

Setelah menerapkan pembatasan pembelian di kota-kota besar seperti Beijing dan Shanghai, pemerintah dalam beberapa bulan terakhir telah beralih ke kota dan provinsi yang lebih kecil yang sebelumnya telah populer di kalangan pembeli.


Komentar
Close Ads X