Setelah Direvitalisasi, Trotoar Sudirman-Thamrin Jangan Dibongkar Lagi - Kompas.com

Setelah Direvitalisasi, Trotoar Sudirman-Thamrin Jangan Dibongkar Lagi

Kompas.com - 11/03/2018, 11:24 WIB
Sejumlah warga melintas di Trotoar Jalan Sudirman, Jakarta, Jumat (09/03/2018). Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan akan merevitalisasi trotoar sepanjang Jalan Sudirman-Thamrin. Trotoar  tersebut akan diperlebar hingga 8 meter dan akan dilengkapi titik-titik pertunjukan seni budaya.MAULANA MAHARDHIKA Sejumlah warga melintas di Trotoar Jalan Sudirman, Jakarta, Jumat (09/03/2018). Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan akan merevitalisasi trotoar sepanjang Jalan Sudirman-Thamrin. Trotoar tersebut akan diperlebar hingga 8 meter dan akan dilengkapi titik-titik pertunjukan seni budaya.

JAKARTA, KOMPAS.com – Revitalisasi trotoar dan jalan di sepanjang Jalan Sudirman-MH Thamrin diharapkan tak hanya dilakukan untuk sekedar menghadapi ajang Asian Games 2018. Lebih dari itu, revitalisasi harus dilakukan secara menyeluruh dengan memperhatikan berbagai aspek.

Koalisi Pejalan Kaki mendukung langkah Pemprov DKI Jakarta atas langkah revitalisasi tersebut. Hanya, perlu digarisbawahi agar pemprov jangan terkesan kejar tayang lantaran adanya perhelatan internasional yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini.

“Yang penting adalah bagaimana membangun di atas trotoar dan di bawah trotoar,” kata Ketua Koalisi Pejalan Kaki Alfred Sitorus kepada Kompas.com, beberapa waktu lalu.

Selama ini, revitalisasi trotoar hanya terkesan ingin mempercantik bagian luar yang terlihat mata saja. Sementara, bagian bawah trotoar yang menjadi tempat untuk menaruh sambungan kabel listrik dan telekomunikasi, serta saluran pipa air atau gas, kurang mendapat perhatian.

Akibatnya, ketika pekerjaan revitalisasi rampung, instansi tertentu yang memiliki kepentingan di bawah trotoar dapat sewaktu-waktu membongkarnya bila terjadi persoalan pada sambungan milik mereka.

“Di bawah itu (perlu diperhatikan) saluran ducting dan main holenya. Seluruh fungsi kabel, pipa, itu harus dibuatkan jaringannya di bawah. Ketika itu sudah dibangun secara baik dan benar, tidak ada lagi alasan yang kami lihat itu ada instansi memiliki kebijakan masing-masing ketika ada gangguan,” tutur Alfred.

Hal yang sama disampaikan pengamat tata kota dari Universitas Trisakti Nirwono Yoga. Dari video dan rendering desain trotoar yang beredar di masyarakat, Pemprov DKI dinilai belum menyentuh persoalan mendasar dari trotoar itu sendiri, yakni keterpaduan.

Perlu adanya integrasi antara dinas satu dengan dinas lain dalam upaya revitalisasi ini guna menghindari praktek pembongkaran di kemudian hari.

“Bagaimana keterpaduan dengan saluran air dan jaringan utilitas di bawahnya yang selama ini tidak pernah terintegrasi dengan baik, sehingga yang terjadi adalah bongkar pasang trotoar di masa depan,” tuntasnya.


Komentar
Close Ads X