Ternyata, Waskita Sudah Pasang Ribuan "Girder"

Kompas.com - 28/02/2018, 16:00 WIB
Timn Puslabfor Mabes Polri memeriksa kondisi TKP robohnya bracket girder di proyek Becakayu Selasa (20/2/2018) Kompas.com/Setyo AdiTimn Puslabfor Mabes Polri memeriksa kondisi TKP robohnya bracket girder di proyek Becakayu Selasa (20/2/2018)

DEPOK, KOMPAS.com - Direktur Jenderal Bina Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Syarif Burhanudin mengatakan kesalahan utama sehingga terjadi kecelakaan kerja pada proyek infrastruktur adalah tidak tertibnya pelaksanaan, perencanaan, dan pengawasan pekerjaan.

Syarif tidak setuju jika kontraktor atau pemilik proyek yang sebagian besar adalah badan usaha milik negara (BUMN), disebut tidak berkompeten di bidangnya.

Baca juga : Waskita Batasi Waktu Pemasangan Girder Non-Standar

PT Waskita Karya (Persero) Tbk misalnya, yang proyeknya paling banyak mendapat sorotan karena beberapa kali terjadi kegagalan konstruksi.

"Waskita sudah memasang 11.000 girder dan ada 3 yang gagal. Kita lihat, penyebabnya beda-beda. Sementara PT Adhi Karya (Persero) Tbk baru 1.600 girder, tapi tidak terjadi kegagalan," ujar Syarief saat paparan kunci atau key note speech di Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI), Depok, Rabu (28/2/2018).

Menurut dia, masyarakat cenderung melihat dari sisi negatif dan mengenyampingkan segi positifnya.

Baca juga : Waskita Akui Lalai dalam Kecelakaan Kerja Infrastruktur

Meski demikian, hal tersebut bisa menjadi pelajaran bagi para kontraktor dan pemerintah untuk membina sisi disiplin para pekerja di lapangan.

KRL melintas di samping crane proyek pembangunan kontruksi  jalur rel dwi ganda atau double-dobel track (DDT) yang roboh di Jalan Slamet Riyadi, Matraman, Jakarta, Minggu (4/2/2018). Crane dari proyek pembangunan rel Jakarta-Cikarang itu roboh pada Minggu (4/2/2018) sekitar pukul 05.30 WIB dan menyebabkan empat pekerja proyek tersebut tewas.ANTARA FOTO/APRILLIO AKBAR KRL melintas di samping crane proyek pembangunan kontruksi jalur rel dwi ganda atau double-dobel track (DDT) yang roboh di Jalan Slamet Riyadi, Matraman, Jakarta, Minggu (4/2/2018). Crane dari proyek pembangunan rel Jakarta-Cikarang itu roboh pada Minggu (4/2/2018) sekitar pukul 05.30 WIB dan menyebabkan empat pekerja proyek tersebut tewas.
Soal pengawasan terutama harus diperketat agar pekerja mengerjakannya secara lebih teliti.

"Dari temuan-temuan, aspek ketidaktelitian ini paling mendominasi (dalam kecelakaan kerja)," sebut Syarif.

Baca juga : Ada Apa dengan Waskita Karya?

Ia menambahkan, meski penyebab setiap kejadian atau insiden kecelakaan berbeda-beda tetapi yang paling utama adalah kurangnya pengawasan.

Pengawasan ini, lanjut Syarif tidak hanya menjadi kewajiban konsultan, tetapi juga pemilik proyek serta kontraktor.

"Setiap pekerjaan itu ada hirarki, makanya tiap pelaksanaan harus dicek lagi," jelas Syarif.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X