Bukan Kebetulan, Kecelakaan Kerja Beruntun karena Kelalaian Serius

Kompas.com - 24/02/2018, 16:00 WIB
Guru Besar Manajemen Konstruksi Universitas Pelita Harapan (UPH) Manilan Ronald Simanjuntak.Kompas.com / Dani Prabowo Guru Besar Manajemen Konstruksi Universitas Pelita Harapan (UPH) Manilan Ronald Simanjuntak.

JAKARTA, KOMPAS.com - Maraknya kasus kecelakaan kerja yang terjadi akhir-akhir ini, diperkirakan tidak terlepas dari banyaknya proyek infrastruktur yang tengah digenjot pemerintah.

Dalam setiap pekerjaan, Guru Besar Manajemen Konstruksi Universitas Pelita Harapan (UPH) Manilan Ronald Simanjuntak mengatakan, sering kali kontraktor lupa menerapkan aspek budaya konstruksi dengan baik.

Baca juga : Drama di Jalan Pattimura

"Jadi sebelum kita masuk (masalah) profesionalisme, ini ada kelalaian super tinggi nih (di proyek infrastruktur)," kata Manilan dalam sebuah diskusi di Jakarta, Sabtu (24/2/2018).

Salah satu yang menjadi sorotannya yaitu kasus ambruknya bekisting pierhead pada proyek Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) pada Selasa (20/2/2018) lalu.

Ketika menyambangi proyek tersebut sehari kemudian, Manilan melihat, bekas ambruknya bekisting pierhead bersih. Dalam arti, tidak ada bekas penahan formwork yang semestinya ada saat pemasangan bekisting pierhead.

Baca juga : Ada Apa dengan Waskita Karya?

"Ngeri. Itu bukan ambrol atau ambruk. Bahasa saya itu lepas, tahu? Melorot, bersih. Itu formwork-nya itu, itu kan bukan ditempelkan. Memang disatukan dengan sistem tertentu, dengan bautkah, (tapi itu) enggak ada," ungkap Manilan.

Mulanya, ia menambahkan, ada informasi bila terdapat empat baut yang menahan. Namun, dari jejak yang ditinggalkan, hal tersebut tidak ada alias bersih.

"Jadi bagi saya, bukan kejadian kebetulan ini. Bahwa kita ini lalainya super. Bagaimana yang namanya formwork penahan beban, 90 hingga 100 meter kubik itu lepas," ujarnya.

Baca juga : Waskita Akui Lalai dalam Kecelakaan Kerja Infrastruktur

Manilan menduga, dalam sejumlah kasus kecelakaan konstruksi lain seperti ambruknya launcher gantry pada proyek Double Double Track (DDT) hingga jatuhnya girder proyek Light Rail Transit (LRT) di Utan Kayu, Jakarta Timur, terjadi karena budaya konstruksi kurang diterapkan dengan baik.

Untuk itu, Manilan mengingatkan pentingnya menjaga budaya konstruksi, guna memastikan tidak terjadinya kasus serupa di kemudian hari.

Budaya konstruksi itu mulai dari proses pengecekan hingga harus adanya pendamping ahli untuk setiap kegiatan.

"Harusnya kan ada checklist-nya, sebelum memasang apa yang harus diperhatikan. Lalu pada saat ngecor, itu saat pemasangan formwork itu ada ahlinya, kemudian pengecoran ada ahlinya juga," tuntasnya.



Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Close Ads X