Kompas.com - 08/02/2018, 16:24 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Asosiasi Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) menilai pemerintah harus mengkaji ulang pedoman pembangunan rumah sederhana atau subsidi.

Pedoman yang dimaksud tertuang pada Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor 403/KPTS/2002 tentang Pedoman Teknis Pembangunan Rumah Sederhana Sehat (Rs Sehat) atau Perkim 403.

"Sekarang dampaknya perbankan enggak mau realisasi KPR, karena standar yang diberikan dengan stok rumah yang sudah dibangun tidak mengikuti aturan (Perkim). Sementara stok di lapangan sekarang lebih dari 30.000 unit," ujar Ketua Apersi Junaedi Abdillah saat jumpa pers di Jakarta, Rabu (7/2/2018).

Junaedi menyimpulkan, perbankan kemudian menolak KPR sejumlah unit rumah tersebut. Jadi, meski diterbitkan sejak 2002, peraturan ini sempat mengalami penundaan dalam penerapannya karena tidak sesuai kondisi di lapangan.

Sebagai contoh, adanya ketentuan material yang harus menggunakan kayu sebagai pondasi rumah.

Kalau peraturan itu dijalankan, semua pengembang harus mengikuti sedangkan tidak semua daerah memiliki material yang disyaratkan tersebut.

"Sekarang rumah sudah berdiri, pondasi juga sudah, dipaksa mengikuti Perkim, makanya perbankan gak mau KPR," jelas Junaedi.

Jika perbankan menolak realisasi KPR, lanjut dia, proses pembiayaan ke pengembang menjadi terhambat. Akibatnya, rumah-rumah yang sudah terbangun tidak langsung dihuni.

Ketua DPD Apersi Jawa Barat Rahayu mengatakan, di daerahnya misalnya, saat ini stok rumah siap huni ada sebanyak 10.000 unit.

Namun, dengan ketetapan Perkim disebutkan bahwa pengembang harus menggunakan besi dengan ketebalan 10 milimeter, akhirnya perbankan menolak mengucurkan KPR. 

"Dengan besi ketebalan 8 milimeter itu juga sebenarnya sudah cukup tidak perlu sampai 10. Selama ini ada rumah yang sampai 20 tahun tidak sampai roboh," jelas Rahayu.

Selain di Jabar, stok rumah siap huni juga terdapat di Banten sebanyak 5.391 unit. Kemudian di Kepulauan Riau dan Jambi, rumah subsidi yang siap huni ada lebih dari 2.000 unit.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.