Melihat Kompleks Perumahan Peninggalan ExxonMobil di Aceh - Kompas.com

Melihat Kompleks Perumahan Peninggalan ExxonMobil di Aceh

Kompas.com - 11/01/2018, 09:40 WIB
Mahasiswa melintas di eks perumahan Exxon Mobil yang kini dijadikan kampus Universitas Malikussaleh, Kompleks Bukit Indah, Lhokseumawe, Rabu (10/1/208)Kompas.com/Masriadi Mahasiswa melintas di eks perumahan Exxon Mobil yang kini dijadikan kampus Universitas Malikussaleh, Kompleks Bukit Indah, Lhokseumawe, Rabu (10/1/208)

LHOKSEUMAWE, KompasProperti - Puluhan orang mengenakan pakaian putih dan celana serta rok warna hitam lalu lalang di bekas kompleks perumahan ExxonMobil di Kompleks Bukit Indah, Desa Blang Pulo, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe, Rabu (10/11/2018). Mereka mahasiswa di Universitas Malikussaleh (Unimal) Aceh Utara.

Kompleks perumahan milik perusahaan minyak bumi dan gas terbesar di Aceh itu diserahkan ke kampus negeri tersebut tahun 2009 lalu. Lengkap dengan segala macam fasilitas perumahan.

Selain itu, ditambah dengan satu gedung olahraga berada di Cunda, Kota Lhokseumawe plus lahan satu hektar lebih. Luas kompleks ini seluruhnya mencapai 107 hektar. 

Saat serah terima aset, Unimal mengubah hampir seluruh fungsi gedung. Misalnya, bar dan pub dijadikan ruang seminar, gedung olahraga berfungsi ganda untuk seminar dan sarana olahraga. Sedangkan perumahan disulap menjadi ruang kelas.

Tidak ditemukan lagi kamar tidur di rumah yang dulunya tempat ekspatriat ExxonMobil beristirahat. Sarana olahraga di Kompleks Bukit Indah seperti lapangan sepak bola, tenis dan lainnya masih dipertahankan.

Termasuk nama-nama jalan di kompleks itu yang mencerminkan nama pulau di Indonesia, seperti Jalan Kalimantan, Sulawesi, Sumatera hingga Papua.

Untuk kerimbunan, kampus ini masih mempertahankan sejumlah pohon pinus yang berada di sekitar kompleks. Tak pelak, tercipta suasana sejuk, sehingga mahasiswa nyaman belajar.

Rektor Unimal Profesor Apridar, menyebutkan sebagian gedung memang diubah fungsinya sesuai kebutuhan kampus. Dengan 20.000 mahasiswa dari 34 jurusan, tentu kompleks perumahan itu sangat penting untuk dijadikan ruang belajar.

“Selama berada di tangan Unimal, ada tujuh gedung laboratorium baru di sana. Sekarang ini sedang dikerjakan dua gedung perkantoran dan seiring waktu tentu semakin bertambah,” terang Apridar.

Unmal, lanjut dia, berusaha mempertahankan gedung lama sebagai sebuah catatan sejarah Indonesia.

“Saya mempertahankan gedung lama, kecuali terpaksa, misalnya ketika dianalisa bahwa rumah A itu sudah tak layak dipertahankan, rentan roboh dan lain sebagainya,” kata Apridar.

Dalam catatan ExxonMobil, seluruh fasilitas perumahan dibangun pada tahun 1975 seiring dimulainya eksplorasi minyak dan gas bumi di Aceh. Tentu, wajar jika sebagian gedung sudah keropos dan tak bisa dipertahankan.

“Namun sampai sekarang belum ada yang dirobohkan. Kami pertahankan semaksimal mungkin,” cetus Apridar.

Dia menyebutkan seluruh aset ExxonMobil itu telah dirasakan manfaatnya dari ribuan mahasiswa yang datang dari seluruh pelosok nusantara.

“Ini bermanfaat untuk anak bangsa. Mahasiswa kami dari Papua hingga Kalimantan. Ini miniatur Indonesia,’ pungkas Apridar.


EditorHilda B Alexander
Close Ads X