Punya Aset Rp 17 Triliun, Astra Infra Fokus di Jawa

Kompas.com - 09/11/2017, 12:00 WIB
Astratel ikut pengusahaan Jalan Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) dengan kepemilikan saham efektif 45 persen.Dokumentasi Astratel Astratel ikut pengusahaan Jalan Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) dengan kepemilikan saham efektif 45 persen.

JAKARTA, KompasProperti - Presiden Direktur Astra Infra Irawan Santoso mengungkapkan per November 2017, total aset Astra Infra senilai Rp 17 triliun.

Aset ini merupakan gabungan dari portofolio enam jalan tol sepanjang 353 kilometer, dan pelabuhan shore base dan pusat logistik berikat (PLB) di Penajam, Kalimantan Timur.

"Kami selama ini lebih sebagai investor operator. Namun ke depan, kami akan bergerak terus bukan hanya mencari profit, namun konstribusi buat bangsa dan negara," kata Irawan.

Astra Infra membidik target pengembangan jalan tol hingga 500 kilometer pada 2020 mendatang.

Dengan begitu, Badan Usaha Jalan Tol ( BUJT) yang didirikan pada 12 Oktober 1992 ini menjadi salah satu perusahaan swasta terbesar dari sisi pengusahaan jalan tol.

Direktur Astra Infra Wiewiek D Santoso menambahkan, untuk merealisasikan target 500 kilometer tersebut, pihaknya terbuka untuk melakukan kerja sama.

"Kami fleksibel. Bisa kerja sama patungan modal atau joint venture (JV), bisa 100 persen kepemilikan, atau skema lainnya. Tergantung availability," ujar Wiewiek kepada KompasProperti, Kamis (9/11/2017).

Namun, kata dia, hingga saat ini belum ada tawaran yang menarik yang bisa digarap lagi. Wiewiek juga menegaskan, untuk saat ini Astra Infra akan tetap fokus pengembangan bisnis di Pulau Jawa.

Ada pun keenam portofolio aset Astra Infra sepanjang 353 kilometer mencakup Tol Tangerang-Merak sepanjang 72,4 kilometer, Tol Jombang-Mojokerto 40,5 kilometer, dan Tol Kunciran-Serpong 11,2 kilometer.

Kemudian Tol Semarang-Solo 72,6 kilometer, Tol Serpong-Balaraja 39,8 kilometer, dan Tol Cikopo-Palimanan sepanjang 116 kilometer.

Sementara pelabuhan shore base dan PLB merupakan hasil akuisisi PT Pelabuhan Penajam Banua Taka pada 2013.



EditorHilda B Alexander

Close Ads X