Di Tengah Tumbangnya Sejumlah Toko Ritel, CT Ekspansi 30 Transmart

Kompas.com - 04/11/2017, 11:00 WIB
CEO CT Corp Chairul Tanjung Hilda B Alexander/Kompas.comCEO CT Corp Chairul Tanjung
|
EditorHilda B Alexander

BEKASI, KompasProperti - Taipan lokal, pemilik imperium bisnis CT Corp, Chairul Tanjung, tak gentar menghadapi kondisi ritel konvensional yang sedang dilanda wabah "gulung tikar".

CT Corp, kata Chairul, justru akan semakin ekspansif dengan membuka 30 gerai TransMart baru di seluruh Indonesia hingga akhir 2018.

Baca juga : Si Anak Singkong Benamkan Rp 3 Triliun di Bekasi

"Nggak ada masalah dengan toko fisik (konvensional). Terakhir kami buka Transmart di Palembang. Makanya kita bikin konsepnya harus beda," kata Chairul menjawab KompasProperti, usai peletakan batu pertama Trans Park @ Juanda Bekasi, Jumat (3/11/2017). 

Menurut Chairul, setiap pekan, terutama hari kerja (weekdays) jumlah transaksi yang terbukukan di satu gerai TransMart sebanyak 6.000 transaksi.

Sementara jumlah pengunjung bisa 100.000 per weekdays dan 150.000 per akhir pekan (weekend). 

Baca juga : Meski Ritel Menurun, Penjualan Barang Bebas Pajak Justru Melonjak

Lahan proyek Transmart di Jalan Dukuh Kupang SurabayaKOMPAS.com/Achmad Faizal Lahan proyek Transmart di Jalan Dukuh Kupang Surabaya
Toko-toko yang tutup, lanjut sosok yang kerap dijuluki "Si Anak Singkong", ini tak bisa mengakomodasi perubahan zaman yang mulai memasuki era disruptive

Pada era disruptive ini, aktivitas generasi milenial tak pernah lepas dari penggunaan gawai pintar. Segala hal dilakukan dengan gawai pintar. Hanya, saat ini mereka belum punya cukup uang untuk berbelanja.

"Tetapi, lima tahun dari sekarang, pasti mereka punya cukup uang untuk berbelanja. Ini potensi yang luar biasa besar. Bayangkan, tiap tahun ada 4 juta kelahiran baru di Indonesia," tutur mantan menteri koordinator bidang perekonomian era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini.

Baca juga : Tragis, 63 Gerai Peritel Legendaris AS Ini Gulung Tikar

Kendati demikian, dia melihat, saat ini porsi transaksi toko ritel fisik masih dominan ketimbang e-commerce. 

"Penggunaan teknologi untuk perdagangan atau e-commerce ini sebuah keniscayaan. Enggak bisa ditolak. Tapi, kan era disruptive enggak cuma soal teknologi, juga perubahan perilaku dan gaya hidup," ucap dia.

Ilustrasi.www.shutterstock.com Ilustrasi.
Karena itu, Chairul meyakini, jika banyak pengunjung yang melakukan swafoto atau selfie, lantas menyebarkan foto tersebut di media sosial, berarti toko itu laku. 

"Enggak perduli menu yang disajikan enak atau enggak. Yang penting bagus buat selfie, pasti ramai dan laku," imbuh dia.

Ada pun investasi yang dibutuhkan untuk merealisasikan rencana 30 gerai baru TransMart ini senilai Rp 300 miliar per satu gerai. Itu artinya CT Corp harus merogoh pundi sekitar Rp 9 triliun.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X