Kompas.com - 02/11/2017, 22:07 WIB
Penulis Dani Prabowo
|
EditorHilda B Alexander

“Menurut BI (Bank Indonesia) ada kenaikan 2-3 persen,  jadi uang lari itu lari ke sana. Kemudian shifting ke kuliner, travel, leisure,” kata dia.

Penyebab lainnya, ia menduga, yakni saat pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla baru memimpin, proses pencairan dana APBN terlambat, yaitu baru pada Juli 2015.

Hal tersebut berdampak terhadap terlambatnya penyaluran dana produktivitas ke masyarakat, sehingga menggerus sektor kelas menengah ke bawah.

“Sektor menengah ke atas karena sudah memiliki pendapatan perkapita di atas 3.000 dollar AS, mereka sudah mengubah pola belanjanya. Costumer behavior, shifting untuk menengah ke atas yang terjadi di Indonesia, sehingga ritel ikut terkena akibat perubahan shifting tersebut,” tuturnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan Video Lainnya >

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.