Desalinasi, Solusi Banjir dan Penyediaan Air Baku Jakarta

Kompas.com - 25/10/2017, 12:00 WIB
Warga melintasi trotoar yang terendam banjir di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (9/5/2015). Curah hujan yang tinggi mengakibatkan sejumlah tempat di ibu kota terendam banjir. TRIBUN NEWS / DANY PERMANAWarga melintasi trotoar yang terendam banjir di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (9/5/2015). Curah hujan yang tinggi mengakibatkan sejumlah tempat di ibu kota terendam banjir.
Penulis Dani Prabowo
|
EditorHilda B Alexander

JAKARTA, KompasProperti - Penurunan muka tanah atau land subsidence, selama ini diyakini menjadi faktor penyebab terjadinya banjir di DKI Jakarta.

Pasalnya, tinggi muka tanah, terutama di wilayah utara, lebih rendah dari permukaan air laut.

Ketua Kelompok Ahli Teknik Sumber Daya Air Institut Teknolog Bandung, Indratmo Soekarno mengatakan, setiap tahun, penurunan muka tanah di wilayah utara Jakarta berkisar antara 7-13 sentimeter. Bahkan, di beberapa tempat penurunan mencapai 27 sentimeter.

"Tapi land subsidence itu bisa saja suatu saat besar, bisa juga jadi kecil, kecil, kecil. karena land subsidence itu bukan hanya diakibatkan penurunan (volume) muka air tanah, tetapi juga struktur geologinya seperti apa," kata Indratmo menjawab KompasProperti, Selasa (24/10/2017).

Upaya untuk mengatasi persoalan itu yakni dengan menurunkan tinggi permukaan air laut dengan cara desalinasi. Setidaknya, ada dua keuntungan bila cara ini dilakukan.

Pertama, permukaan air laut yang turun dapat mengurangi banjir rob yang terjadi. Sebab, air yang disedot dari laut, dapat dimanfaatkan sebagai air baku untuk sumber air minum.

Kedua, air laut yang diolah dengan metode desalinasi dapat dimanfaatkan sebagai air minum. Langkah ini sekaligus untuk mendukung ketahanan air Jakarta, yang selama ini dipasok dari Waduk Jatiluhur.

"Karena Jakarta itu katakan dibutuhkan 30 meter kubik per detik, sekarang ada 19 meter kubik per detik, cari tambahan kan tidak mudah. Nah ini memang salah satu solusi," kata dia.

Ia menambahkan, desalinasi sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Sebelumnya, pemerintah pernah membangun Bendungan Duriangkang di Pulau Batam menggunakan teknik ini, untuk memenuhi kebutuhan air baku masyarakat di sana.

"Waduk Duriangkang itu estuari reservoir, jadi terhubung dengan laut. Lautnya kami potong, sehingga sisanya itu airnya kita pompa keluar. Lebih dari setahun kita pompa air asinnya itu sampai tawar, dan itu jadikan penyediaan di Batam," papar Indratmo.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X