Kompas.com - 09/10/2017, 19:00 WIB
Sejumlah kaum disabilitas yang tergabung dalam Gerakan Aksesbilitas Umum Nasional (GAUN) menggelar aksi susur trotoar di sepanjang Jalan Sabang, Thamrin, ke arah Jalan Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (30/8/2017). Kaum disabilitas menyuarakan kebutuhan akan jalur pedestrian yang ramah dan aman akibat banyaknya trotoar yang digunakan untuk parkir mobil atau motor sampai pedagang kaki lima berjualan sehingga fasilitas untuk disabilitas menjadi rusak. KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNGSejumlah kaum disabilitas yang tergabung dalam Gerakan Aksesbilitas Umum Nasional (GAUN) menggelar aksi susur trotoar di sepanjang Jalan Sabang, Thamrin, ke arah Jalan Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (30/8/2017). Kaum disabilitas menyuarakan kebutuhan akan jalur pedestrian yang ramah dan aman akibat banyaknya trotoar yang digunakan untuk parkir mobil atau motor sampai pedagang kaki lima berjualan sehingga fasilitas untuk disabilitas menjadi rusak.
|
EditorHilda B Alexander

JAKARTA, KompasProperti - Dari berbagai jenis moda transportasi seperti bus dan kereta, moda perjalanan berjalan kaki merupakan yang paling alami, sehat, bersih, efisien, dan terjangkau.

Mengembalikan atau mempertahankan moda perjalanan jarak pendek ini sangat penting terutama untuk tercapainya transit oriented development (TOD) yang inklusif.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menurut arsitek dari konsultan BuroHappold Engineering Michael King, salah upaya yang dapat mendorong masyarakat berjalan kaki adalah memperindah jalur pejalan kaki atau trotoar.

"Kalau Anda sedang berjalan, kemudian melihat ada gedung yang tertutup, ada lahan parkir, itu tidak aktif. Tapi bandingkan saat Anda berjalan-jalan di dalam sebuah mal," ujar King dalam sebuah diskusi beberapa waktu lalu.

Ia mengatakan, begitu pula jika di jalur pejalan kaki terdapat beberapa toko, restoran atau ruko yang memiliki visual menarik.

Hal ini akan membuat seseorang tidak hanya berjalan kaki, tetapi juga melihat-lihat sehingga tidak bosan. Jika jalur membosankan, tidak akan ada yang tertarik untuk berjalan kaki.

"Di kota saya (New York), banyak orang berjalan kaki sangat panjang sambil melihat-lihat. Saya dan teman saya pernah berjalan kaki sampai 3 kilometer, tidak melelahkan," jelas King.

Berdasarkan pengalamannya, ia senang berjalan kaki karena banyak orang melakukannya. Dengan demikian, ia bisa sekaligus bercengkrama bersama orang-orang.

King juga mengaku saat berjalan kaki, bisa bertemu dengan banyak teman dan orang-orang yang ia kenal.

"Berjalan kaki bisa jadi menarik, aman dan produktif ketika trotoar ramai, terhias, dan terisi dengan berbagai kegiatan dan media interaksi," sebut King.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.