Investasi Metro Kapsul Diklaim Lebih Murah Dibanding LRT dan MRT

Kompas.com - 26/09/2017, 15:55 WIB
Purwarupa moda transportasi masa depan Kota Bandung, LRT Metro Kapsul Bandung telah terpasang di Alun-alun Bandung, Jalan Asia Afrika, Rabu (5/4/2017) Kontributor Bandung, Dendi RamdhaniPurwarupa moda transportasi masa depan Kota Bandung, LRT Metro Kapsul Bandung telah terpasang di Alun-alun Bandung, Jalan Asia Afrika, Rabu (5/4/2017)
|
EditorHilda B Alexander

JAKARTA, KompasProperti - Masalah di perkotaan yang padat penduduk terutama adalah kebutuhan transportasi publik.

Dalam waktu yang sama, transportasi publik juga diharapkan dapat mengurangi antrean kendaraan pribadi di jalan-jalan utama.

Di Indonesia, Director Center for Unmanned System Studies Center ITB Muljowidodo Kartidjo tengah mengembangkan kereta ringan atau Light Rail Transit (LRT) Metro Kapsul di Bandung sebagai kota percontohan.

"Awalnya itu, kita mencari sistem transportasi yang berusaha memberi jalan keluar kota-kota besar yang sudah terlanjur dibangun tanpa adanya perencanaan sistem transportasi yang cukup," ujar Muljowidodo kepada KompasProperti pekan lalu.

Muljowidodo mengklaim, metro kapsul ini sekaligus menjadi jawaban atas tantangan pemerintah saat mencari model transportasi yang cepat dan murah pembangunannya.

Namun, tetap tidak mengorbankan kapasitas penumpang dan terutama kualitas transportasi itu sendiri.

Menurut Muljowidodo, selama ini biaya pembangunan transportasi publik seperti moda raya transportasi (MRT) atau LRT cukup tinggi sehingga sulit diterapkan di kota-kota dengan anggaran rendah.

"Biaya investasi itu, 50-60 persen ada di pembangunan jalurnya, tiang-tiang penyangga," kata Muljowidodo.

Oleh sebab itu, ia berupaya mereduksi biaya pembangunan tiang dan girder tersebut dengan menyiasati berat kapsul yang lewat di atasnya.

Logikanya, imbuh Muljowidodo, tiang harus mampu dilewati beban sejumlah ton tertentu. Semakin besar dan panjang keretanya, maka semakin berat beban yang harus ditopang tiang.

Metro Kapsul sendiri dibuat dengan kapasitas yang lebih kecil. Sebagai gambaran, jika satu gerbong kereta yang biasa mampu menampung 300 orang, metro kapsul hanya berkapasitas 50 orang.

Namun, dari segi jumlah, metro kapsul dibuat lebih banyak dan saat beroperasi, tiap-tiap kapsul melewati tiang secara bergantian.

Dengan demikian, beban tiang untuk menyangga tidak terlalu berat.

"Nanti ketika di stasiun, semua kapsul-kapsulnya berkumpul dengan mutu beton tiang yang lebih tinggi daripada tiang-tiang lain," jelas Muljowidodo.

 



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Setiap Hari, Empat Korban Covid-19 Dimakamkan di San Diego Hills

Setiap Hari, Empat Korban Covid-19 Dimakamkan di San Diego Hills

Kawasan Terpadu
Pelindo Ajak Investor Bangun Industri di Kualatanjung

Pelindo Ajak Investor Bangun Industri di Kualatanjung

Konstruksi
Investasi Rp 450 Miliar, Pengembang Ini Bangun 'Little Singapore' di Tangerang

Investasi Rp 450 Miliar, Pengembang Ini Bangun "Little Singapore" di Tangerang

Perumahan
Ini Teknologi Pereduksi Kerusakan Infrastruktur Layang Saat Gempa

Ini Teknologi Pereduksi Kerusakan Infrastruktur Layang Saat Gempa

Konstruksi
Fakta Seputar Tol Pekanbaru-Dumai yang Dilengkapi Terowongan Gajah

Fakta Seputar Tol Pekanbaru-Dumai yang Dilengkapi Terowongan Gajah

Konstruksi
Berpotensi Likuefaksi, Jalan di Bandara YIA Dibangun dengan Metode 'Dynamic Compaction'

Berpotensi Likuefaksi, Jalan di Bandara YIA Dibangun dengan Metode "Dynamic Compaction"

Konstruksi
Kabar Terbaru Tol Akses Pelabuhan Patimban, Finalisasi Kelayakan Bisnis

Kabar Terbaru Tol Akses Pelabuhan Patimban, Finalisasi Kelayakan Bisnis

Konstruksi
Bersama China, BMKG Kembangkan 3 Sistem Baru Deteksi Gempa dan Tsunami

Bersama China, BMKG Kembangkan 3 Sistem Baru Deteksi Gempa dan Tsunami

Berita
Jumat Besok, Tol Pekanbaru-Dumai 131 Kilometer Diresmikan Jokowi

Jumat Besok, Tol Pekanbaru-Dumai 131 Kilometer Diresmikan Jokowi

Konstruksi
BMKG Manfaatkan IoT dalam Mendeteksi Tsunami, Begini Cara Kerjanya

BMKG Manfaatkan IoT dalam Mendeteksi Tsunami, Begini Cara Kerjanya

Berita
Kementerian ATR/BPN Berhasil Mendaftarkan 24 Juta Bidang Tanah

Kementerian ATR/BPN Berhasil Mendaftarkan 24 Juta Bidang Tanah

Berita
Lokakarya Megastruktur dan Infrastruktur Tahan Gempa Resmi Digelar

Lokakarya Megastruktur dan Infrastruktur Tahan Gempa Resmi Digelar

Konstruksi
[POPULER PROPERTI] Proyek Infrastruktur Harus Berlanjut di Tengah Ancaman Resesi

[POPULER PROPERTI] Proyek Infrastruktur Harus Berlanjut di Tengah Ancaman Resesi

Berita
Oktober 2020, Jalan Akses Pelabuhan Patimban Siap Layani Arus Logistik

Oktober 2020, Jalan Akses Pelabuhan Patimban Siap Layani Arus Logistik

Konstruksi
Hong Kong Kingland Buka Kampus Universitas Sahid, Bidik 300 Mahasiswa

Hong Kong Kingland Buka Kampus Universitas Sahid, Bidik 300 Mahasiswa

Apartemen
komentar di artikel lainnya
Close Ads X