Kejahatan Berkembang, Polri Dalami "Smart Security" Perkotaan

Kompas.com - 19/09/2017, 17:30 WIB
Gelar barang bukti minuman keras ilegal berbagai macam merek senilai Rp26,3 miliar hasil sitaan Polda Metro Jaya dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai di Polda Metro Jaya Jakarta, Senin (18/9/2017). Sebanyak 53.972 botol miras disita dari kontainer di Pelabuhan Sri Bayintan Kijang dan Pelabuhan Tanjung Priok. KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMOGelar barang bukti minuman keras ilegal berbagai macam merek senilai Rp26,3 miliar hasil sitaan Polda Metro Jaya dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai di Polda Metro Jaya Jakarta, Senin (18/9/2017). Sebanyak 53.972 botol miras disita dari kontainer di Pelabuhan Sri Bayintan Kijang dan Pelabuhan Tanjung Priok. KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO
|
EditorHilda B Alexander

TANGERANG, KompasProperti - Kota yang semakin berkembang, menyisakan masalah yang kian kompleks. Tantangan utama yang menjadi isu global antara lain adalah pertumbuhan penduduk yang sangat cepat.

Dengan bertumbuhnya penduduk, persaingan untuk mendapat ruang hidup menjadi lebih ketat, sehingga mendorong perilaku sosial tak biasa. Termasuk kejahatan, dan tindak-tindak lain kriminalitas.

"Tren sekarang sudah bergeser ke kejahatan yang menggunakan teknologi," ujar Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Kombes Polisi Agung Setya Imam Effendi saat diskusi Smart Security/Safety pada Indonesia Future City (IFC) di Indonesia Convention and Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, Selasa (19/9/2017).

Agung menuturkan, di kota yang semakin penuh permasalahan yang dihadapi juga semakin rumit. Sementara penyelesaian masalah pun tidak bisa disamakan dengan yang ada di daerah atau desa.

Untuk mengatasi atau mencegah pelaku kejahatan memanfaatkan teknologi dan merugikan orang lain, Agung mengatakan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) harus selangkah lebih maju menjadi lebih modern.

Karena itu, saat ini Polri tengah mendalami smart security yang kelak diharapkan dapat membantu mencegah, dan sekaligus memberi solusi mengatasi kejahatan dan tindak kriminalitas lainnya.

"Sekarang anggaran yang paling besar adalah untuk memperbarui atau mengadakan perangkat. Itu yang ingin menjawab bagaimana memodernkan polisi," tutur Agung.

Sebagai contoh, imbuh dia, Polri kini memperbanyak mobil SIM keliling untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Selain itu, Agung bercerita saat bertugas di Bengkulu, hampir seluruh mobil patroli dipasang global positioning system (GPS). Dengan demikian, ia bisa memantau ke mana saja anak buahnya di lapangan dan apakah mereka menjalankan tugas yang diberikan.

Perkembangan zaman memaksa Polri untuk tidak tertinggal. Terlebih lagi, generasi milenial sudah terbiasa dengan sesuatu yang ringkas dan sederhana.

"Kalau bisa jangan terlalu formal, misalnya ada kejadian harus lapor, isi form, belum kalau mesin ketik rusak," sebut Agung.

Dengan demikian, lanjut dia, Polri juga dituntut untuk memantau media sosial jika ada keluhan masyarakat yang disampaikan misalnya melalui akun Facebook atau Twitter.

Menurut dia, Polri selalu terbuka dengan kritik dan saran dari masyarakat untuk lebih jauh lagi dapat melayani di bidang keamanan.

"Kami berharap polisi berada dalam sistem yang modern. Jangan tinggalkan kami dalam pembangunan apa pun, baik itu kota atau kawasan karena tugas kami melayani," jelas Agung.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X