Kompas.com - 14/09/2017, 09:11 WIB
Seorang anak mencari sampah berupa besi di Kanal Banjir Barat (KBB) sungai Ciliwung di Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (11/9/2017). Pengerukan lumpur dilakukan untuk memperlancar aliran air sungai serta mengantisipasi datangnya musim hujan yang mengakibatkan banjir yang kerap terjadi di Jakarta. KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNGSeorang anak mencari sampah berupa besi di Kanal Banjir Barat (KBB) sungai Ciliwung di Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (11/9/2017). Pengerukan lumpur dilakukan untuk memperlancar aliran air sungai serta mengantisipasi datangnya musim hujan yang mengakibatkan banjir yang kerap terjadi di Jakarta.
EditorLatief

KompasProperti - Hidup di Jakarta memang serba salah. Baru keluar rumah, sudah langsung dihadang macet dan polusi di sana-sini.

Maju kena, mundur juga kena, begitulah ibarat dinamika kehidupan sehari-hari di Ibukota Indonesia ini. Tingginya polusi dan sampah berserakan menjadikan Jakarta bak rimba racun.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Polusi udara dan pencemaran akibat sampah sudah demikian merusak, baik di udara maupun di sungai. Tanah, air, dan udara tercemar berat. Tingkat kesehatan warga makin hari makin terancam memburuk.

Kanker, kerusakan paru paru dan sistem syaraf, gangguan jiwa dan berbagai masalah serius  lain kini menghantui siapa saja yang tinggal di Jakarta. Berbagai upaya untuk membangun permukiman yang sehat oleh para pengembang pun seperti tampak sia sia.

Mereka hanya mampu membangun permukiman mewah dan nyaman, tapi apa daya melawan polusi yang sudah demikian hebat?

Ini semua tak lepas dari tingginya kepadatan penduduk. Kini, penduduk Jakarta telah mencapai mencapai 10,1 juta jiwa dan masih menunjukkan gejala terus melambung.

Pekerja mengeruk lumpur menggunakan ekskavator di Kanal Banjir Barat (KBB) sungai Ciliwung di Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (11/9/2017). Pengerukan lumpur dilakukan untuk memperlancar aliran air sungai serta mengantisipasi datangnya musim hujan yang mengakibatkan banjir yang kerap terjadi di Jakarta.KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG Pekerja mengeruk lumpur menggunakan ekskavator di Kanal Banjir Barat (KBB) sungai Ciliwung di Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (11/9/2017). Pengerukan lumpur dilakukan untuk memperlancar aliran air sungai serta mengantisipasi datangnya musim hujan yang mengakibatkan banjir yang kerap terjadi di Jakarta.
Sialnya lagi, sampah terus menggunung dan terlalu sulit dikendalikan. Lihat saja, studi tentang lingkungan hidup menunjukkan hampir semua tanah, air, dan udara di Jakarta tercemar berat oleh limbah beracun dan berbahaya.

Maka, siapapun yang tinggal di Jakarta harus berhadapan dengan ancaman kesehatan lebih mengerikan di masa mendatang. Apalagi, air sungai sebagai menjadi sumber utama air minum terus tercemar.

Ancaman dari tanah juga tak kalah menakutkan. Sekitar 70 persen tanah di Jakarta telah tercemar limbah beracun berbahaya. Baca: 70 Persen Tanah DKI Tercemar Air Limbah.

Pembuatan septic tank yang asal jadi, dan pembuangan sampah secara serampangan adalah penyebab utamanya. Bayangkan, setiap hari Jakarta memproduksi 6000 ton sampah, yang sebagian bahkan sebagian besar dibuang secara sembarangan.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.