Berpikir Lari dari "Neraka" Jakarta...

Kompas.com - 24/08/2017, 11:16 WIB
Kawasan kumuh dan padat penduduk di pinggir Waduk Pluit, Jakarta Utara, Senin (28/7/2014). Pemerintah DKI Jakarta telah melakukan normalisasi di Waduk Pluit untuk mengembalikan fungsinya sebagai kantong air. KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO - RODERICK ADRIAN MOZESKawasan kumuh dan padat penduduk di pinggir Waduk Pluit, Jakarta Utara, Senin (28/7/2014). Pemerintah DKI Jakarta telah melakukan normalisasi di Waduk Pluit untuk mengembalikan fungsinya sebagai kantong air.
EditorLatief

KompasProperti - Nyaris, makin berkurang kenyamanan dan keamanan hidup di Jakarta, meskipun itu di dalam rumah. Berapa banyak orang bunuh diri  dengan cara lompat dari gedung tinggi?

Berapa banyak kasus pembegalan? Perampokan yang kejam? Itu belum bicara kebakaran dan kemacetan yang makin menambah stres!

Banyak orang telah berkorban harta dan nyawa, atau setidaknya terluka karena sering terjadi kebakaran besar di tengah malam atau diserang kawanan perampok dan begal yang makin merajalela.

Menurut statistik Dinas Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Provinsi DKI Jakarta, tahun lalu saja terjadi 1.139 kasus kebakaran. Penyebab utamanya adalah korsleting listrik.

Korban tewas 20 orang, 3.618 keluarga (11.719 orang) menjadi korban, harta benda yang hangus bernilai Rp 212 miliar, dan ratusan rumah hangus terbakar.  

Apakah itu salah satu pemicu semakin tingginya angka penderita stres dan gangguan jiwa di Jakarta? Kita bisa melihat, jumlah penderita gangguang jiwa yang berkeliaran di jalan terus bertambah.

Tahun lalu Dinas Sosial Pemda DKI Jakarta menjaring 2.283 penderita sakit jiwa di jalanan. Angka itu sudah meningkat 668 orang dari tahun sebelumnya.

Ibarat puncak gunung es, angka itu bisa jadi akan bertambah. Ini belum termasuk para penderita gangguan jiwa yang sesungguhnya jauh lebih tinggi, karena sebagian besar dari mereka dirawat sendiri oleh keluarganya dan tak tercatat di dinas Sosial.

Kendaraan bermotor terjebak dalam kemacetan di Kawasan Slipi, Jakarta Pusat, Kamis (06/12/2012). Pemprov DKI Jakarta akan menerapkan konsep pembatasan kendaraan bermotor melalui metode pelat nomor genap-ganjil sebagai solusi mengatasi kemacetan di ibu kota. BERITA KOTA/ANGGA BN Kendaraan bermotor terjebak dalam kemacetan di Kawasan Slipi, Jakarta Pusat, Kamis (06/12/2012). Pemprov DKI Jakarta akan menerapkan konsep pembatasan kendaraan bermotor melalui metode pelat nomor genap-ganjil sebagai solusi mengatasi kemacetan di ibu kota.
Layak huni?

Tingkat stres hidup di perkotaan sangat tinggi. Itu kenyataan yang ada di Jakarta. Persaingan hidup semakin keras, dan tekanan semakin tinggi.

Data Departemen Kesehatan bahkan menyebut jumlah pasien gangguan jiwa di DKI Jakarta adalah yang terbanyak. Mencapai 2,03 persen dari jumlah penduduk di Indonesia.

Direktur Bina Upaya Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan Eka Viora kepada media pernah menyebutkan bahwa masyarakat di kota besar stres akibat menghadapi beban dan tuntutan kerja, sedangkan di kota kecil karena persoalan ekonomi, seperti kemiskinan atau sulitnya mencari kerja.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X