World Health Organization (WHO) bahkan menetapkan standar TDS air yang layak dikonsumsi ada dalam kisaran 60-10.
“Ini sangat bagus untuk diolah, dengan dielektrolisa ini nanti dipisahkan asam dan basa. Yang biasa kita minum yang basa, karena fungsinya untuk melarutkan (dalam tubuh)," katanya.
Dalam mengolah air, Rico menyiapkan dua wadah penampungan air minum, yang sebenarnya mereka tersambung. Wadah air di sini kiri, menampung air dengan kadar asam lebih tinggi. Sedangkan, wadah yang di kanan mengandung air dengan kadar basa lebih tinggi.
Bila air yang kadar basanya tinggi habis karena diminum, ia menambahkan air hujan yang sudah disaring ke tempat yang asam.
“Jadi, misalnya terlihat tinggi air asam-basa hanya sejajar, tapi nanti yang basa akan bergeser lebih tinggi dari asam. Artinya yang basa ini lebih ringan dari asam, karena kandungan yang asam lebih berat makanya TDS-nya lebih rendah,” papar Rico.
Instalasi ‘air setrum’ ini sempat akan dipakai di rumah susun di Jakarta. Ada instalasi model lain yang terintegral dan memiliki penghitung waktu (timer) yang dapat digunakan di apartemen atau rumah susun. Namun, rencana itu belum pasti karena pergantian peride pemerintahan yang akan berdampak pada kebijakan.
Menurut Rico, air tersebut memang membawa banyak manfaat dan istimewa bagi keluarganya. Ia pun tak pelit berbagi dengan tetangganya. Sebab itu, dia memasang instalasi air di luar rumah agar tetangganya bisa minum air olahannya.
“Walau sedikit yang penting bisa berbagi dan berguna bagi orang lain. Makanya, Saya buat ini dan bikin pelatihan juga (supaya ada yang bisa membuat instalasinya secara mandiri),” ujar Rico.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.