Menghadap Matahari Tenggelam, Tembok Bisa Panas Semalaman

Kompas.com - 02/08/2017, 16:04 WIB
Gypsum dari Gyproc Arimbi RamadhianiGypsum dari Gyproc
|
EditorHilda B Alexander

JAKARTA, KompasProperti - Indonesia merupakan negara tropis yang mendapatkan sinar matahari melimpah jika tidak sedang musim hujan.

Kelebihan tinggal di negara tropis tentu saja seseorang tidak perlu menyiapkan rumah yang tahan terhadap dingin dan panas sekaligus seperti di negara-negara Eropa yang memiliki 4 musim termasuk musim dingin dan musim panas.

"Tembok adalah penghantar panas terbaik di dalam rumah dan panasnya tetap bertahan di dalam tembok sampai jam 2 pagi," ujar Managing Director PT Saint-Gobain Construction Products Indonesia Hantarman Budiono di Jakarta, Selasa (2/8/2017).

Hal tersebut dialami sendiri olehnya ketika selalu pulang ke rumah sekitar pukul 18.00-19.00 WIB. Ketika ia memasuki kamar, udara panas sangat terasa apalagi saat pendingin ruangan tidak menyala.

Hantarman pun mengetahui udara panas tersebut bertahan sampai pukul 2 pagi karena ia bereksperimen untuk tidak menyalakan pendingin ruangan sama sekali.

Menurut Hantarman, hal berbeda terjadi di Eropa. Meski sinar matahari di Eropa tidak lebih banyak dibandingkan di Indonesia, ada saat-saat tertentu misalnya musim panas, ketika para penduduk negara-negara Eropa juga harus menghalau panas masuk ke dalam rumah.

"Kalau dibandingkan dengan di Eropa, mereka (rumah) pakai tembok tapi dilapisi dengan gipsum. Mereka batasi tembok itu sehingga panas matahari tidak ditransfer ke ruangan," sebut Hantarman.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ia menambahkan, rumah-rumah di Eropa juga memiliki plafon yang lebih tebal dibandingkan di Indonesia. Tujuannya, supaya panas dari genteng tidak berpindah ke dalam ruangan.

Hantarman juga mengatakan, pemanfaatan gypsum di Eropa sudah sangat baik di negara maju. Gipsum bukan semata-mata dipakai sebagai penambah estetika tetapi juga memiliki fungsi.

Ketika cuaca panas, ruangan yang menggunakan tembok gipsum tidak terlalu panas. Begitu pula saat cuaca dingin, maka udara dingin tersebut tidak masuk ke dalam rumah.

"Penggunaan pemanas dan pendingin ruangan juga jadi berkurang sehingga lebih hemat listrik," pungkas Hantarman.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X