Kompas.com - 25/07/2017, 07:40 WIB
Direksi Bank Tabungan Negara (BTN) saat menyampaikan kinerja semester I/2017, di Menara BTN, Jakarta Pusat, Senin (24/7/2017), Kompas.com/Kurnia Sari AzizaDireksi Bank Tabungan Negara (BTN) saat menyampaikan kinerja semester I/2017, di Menara BTN, Jakarta Pusat, Senin (24/7/2017),
|
EditorLatief

Jakarta, KompasProperti - Pemerintah mengalihkan subsidi perumahan dari yang sebelumnya melalui Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) menjadi Subsidi Selisih Bunga (SSB).

Direktur PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Iman Nugroho Soeko menyatakan bahwa pengalihan FLPP ke SSB akan mengurangi beban pemerintah.

"Kok BTN berani dan mau, karena BTN yakin bisa usahakan tambahan Rp 9 triliun. Kalau itu harus diusahakan, dan kami yakin mampu memperoleh Rp 9 triliun," ujar Iman saat paparan kinerja BTN di Menara BTN, Jakarta, Senin (24/7/2017).

Ia mengatakan, SSB tidak akan berdampak pada pengembang atau masyarakat sebagai kreditur. Pihak yang justru terkena dampak adalah BTN. Namun, hal tersebut bisa dimitigasi.

Iman menjelaskan, dengan FLPP 90 persen dana subsidi disiapkan pemerintah dengan alokasi anggaran sebelumnya Rp 9,7 triliun. Dana ini kemudian dipangkas menjadi Rp 3,1 triliun.

Sementara itu, BTN memegang market share FLPP sebesar 96,5 persen pada tahun lalu. Dengan mengalihkan dana melalui SSB, BTN bisa mengejar ketertinggalan tersebut.

"Dari segi margin sebetulnya untuk subsidi selisih bunga atau FLPP itu sama profit marginnya. Kalau gross margin lebih besar SSB, karena harusnya ada tambahan biaya untuk memobilisasi dana tadi," jelas Iman.

Meski secara teori ada tambahan biaya, lanjut dia, realita di lapangan adalah jika mau menambah Rp 9 triliun, BTN tidak perlu memperbanyak pegawai dan kantor cabang.

Sebaliknya, dengan memanfaatkan SSB, BTN mendapat kesempatan untuk meminimalkan dana over head.

"Tapi, khusus tahun ini saja. Sekali lagi, tidak ada perubahan apa-apa yang memengaruhi stakeholders dalam kaitannya BTN beralih ke SSB," tutur Iman.

Ia juga mengatakan, SSB dipilih karena alokasi anggaran dari pemerintah lebih kecil. Pemerintah hanya cukup menyediakan dana SSB yang besarnya 6 persen dibandingkan pemerintah mengeluarkan dana FLPP senilai Rp 9,7 triliun.

"Keuntungan bagi pemerintah adalah bisa menghemat dalam kondisi terjadi kemungkinan defisit anggaran dan belanja negara," ujarnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.