Punya Uang Kurang dari Rp 500 Juta, Mending Beli Rumah atau Apartemen?

Kompas.com - 15/06/2017, 15:32 WIB
Meskipun pembangunan apartemen mulai gencar di jalur Cibubur – Cileungsi, tapi pengembangan klaster baru landed house saat ini masih lebih mendominasi. Dok Harvest CityMeskipun pembangunan apartemen mulai gencar di jalur Cibubur – Cileungsi, tapi pengembangan klaster baru landed house saat ini masih lebih mendominasi.
EditorLatief

Jakarta, KompasProperti - Sebagian besar masyarakat Indonesia masih merasa lebih nyaman tinggal di rumah tapak bersama keluarga. Selain lebih murah dari apartemen, tanahnya lebih luas, tersedia halaman, garasi, serta taman hijau.

Tak hanya itu. Rumah juga dianggap masih sangat fleksibel, terutama jika suatu saat ingin direnovasi, baik secara horizontal maupun vertikal.

Hal itu dituturkan Chief Executive Officer (CEO) Harvest City, Hendry Nurhalim, Rabu (14/6/2017), terkait paparan harga rumah di kawasan penyangga Jakarta. Hendry mengatakan, dalam tiga tahun terakhir tren pembangunan apartemen di beberapa wilayah penyangga ibukota Jakarta terus meningkat.

"Kelangkaan dan mahalnya harga tanah di Jakarta mendorong para developer melirik wilayah potensial untuk mengembangkan hunian vertikal yang tidak boros tanah, termasuk di wilayah Transyogi ini sebagai jalur alternatif Cibubur," kata Hendry.

Namun, lanjut dia, di tengah maraknya pembangunan hunian jangkung itu permintaan rumah di bawah harga Rp500 juta, khususnya di wilayah Transyogi, tetap tinggi. Banyak masyarakat masih mengganggap rumah sebagai keuntungan investasi jangka panjang dibandingkan apartemen.

"Misalnya, dengan Rp270 jutaan beli rumah di sini (Harvest City), pembeli mendapat 60 m2 luas tanah dan 22 m2 luas bangunan. Dibanding beli apartemen tipe studio yang tanpa kamar di Cileungsi, harganya sudah Rp300 jutaan. Tapi, di Cibubur dengan tipe yang sama, harganya sudah di atas Rp400 jutaan," kata Hendry.

Itu belum termasuk biaya service charge antara Rp12.000 sampai Rp 15.000 per meter, tarif listrik atau air, dan biaya parkir. Untuk investasi, lanjut dia, komponen biaya tersebut akan berat.

"Apalagi kalau sulit mencari penyewa, maka semua biaya-biaya itu harus dibayar, meskipun tidak dihuni," jelas Hendry.

Untuk itulah, menurut dia, meskipun pembangunan apartemen mulai gencar di jalur Cibubur – Cileungsi, tapi pengembangan klaster baru landed house saat ini masih lebih mendominasi.

"Selain itu salah satu pertimbangan utama orang beli apartemen itu kan mendekatkan tempat tinggalnya dengan lokasi bisnis atau tempat kerja. Jadi, kalau lokasi apartemen tidak di tengah kota, minat orang juga  berkurang," ujarnya.

Sementara itu, Manager Pemasaran Harvest City Leonard Suprijatna menambahkan bahwa tingginya minat konsumen properti terhadap rumah tapak terlihat dari meningkatnya penjualan rumah di klaster baru di Harvest City, antara lain sSakura Daisuki, Sakura Emiko, dan Suite Alba.

Pada semester pertama tahun ini, lanjut Leonard, perjualan rumah di situ meningkat 20 persen dibandingkan semester pertama tahun lalu. Hingga awal Juni 2017 ini, total penjualan Harvest City sudah mencapai Rp250 miliar.

"Peningkatan ini tidak terlepas dari dampak gencarnya pembangunan infrastruktur (LRT dan JORR 2), yang pengerjaannya sudah mulai kelihatan di depan CitraGrand Cibubur dan Kota Wisata. Saya berharap ini makin menambah ekspektasi positif, bahwa ke depan akses jalur Transyogi makin bagus," kata Leonard.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X