Kompas.com - 19/05/2017, 14:27 WIB
Salah contoh rumah tipe 25/60 di Villa Kencana Cikarang yang diresmikan Presiden Joko Widodo (Jokowi), Kamis (4/5/2017). Arimbi Ramadhiani/Kompas.comSalah contoh rumah tipe 25/60 di Villa Kencana Cikarang yang diresmikan Presiden Joko Widodo (Jokowi), Kamis (4/5/2017).
Penulis Dani Prabowo
|
EditorHilda B Alexander

JAKARTA, KompasProperti - Rencana pemerintah membangun sejuta rumah, termasuk rumah tapak bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dinilai belum menjawab persoalan masyarakat urban yang tinggal di kota besar.

Lokasi perumahan yang jauh, menjadi masalah sendiri bagi mereka yang bekerja di kota untuk memiliki rumah. Mereka harus menempuh waktu lebih lama untuk dapat menjangkau lokasi perkantoran.

"Program Sejuta Rumah hanya menjadi solusi sebagian, bagi kelompok menengah yang mampu menjangkau cicilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Dan mereka tidak bekerja di pusat kota," kata Dosen Kelompok Keahlian Perumahan Permukiman Sekolah Arsitektur Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SKPPK) Institut Teknologi Bandung (ITB), Jehansyah Siregar, saat dihubungi KompasProperti, beberapa waktu lalu.

Jehansyah pun mafhum dengan lokasi jauh yang dipilih sebagai area untuk membangun kawasan perumahan itu. Pasalnya, bila memilih kawasan yang dekat dengan perkotaan, harga perolehan lahan cukup tinggi.

"Rumah sederhana tapak hanya bisa dibangun di luar kota yang harga tanahnya sekitar Rp 100.000 per meter persegi. Kalau di kota-kota besar di Indonesia ya sudah susah, harga tanah saja sudah Rp 1.000.000 per meter persegi," kata dia.

Untuk diketahui, berdasarkan data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), realisasi pembangunan program sejuta rumah antara Januari-April 2017 sebanyak 169.614 unit. Jumlah itu terdiri dari 155.408 unit rumah bagi MBR dan 14.206 unit bagi non-MBR.

Menurut Direktur Jenderal Penyediaan Perumahan Kementerian PUPR Syarif Burhanuddin, capaian tersebut lebih baik dibanding sebelum program Sejuta Rumah digulirkan. Biasanya, pada periode yang sama, jumlah rumah yang dibangun lebih kecil.

"Ini sudah bagus kenaikannya, dari belasan ribu unit menjadi ratusan ribu unit. Nanti Juni-Agustus akan makin meningkat, sama seperti tahun lalu," kata Syarif saat acara Property and Mortgage Summit 2017, di Hotel Indonesia, Selasa (16/5/2017).

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.