Kompas.com - 07/05/2017, 22:30 WIB
|
EditorHilda B Alexander

DEPOK, KompasProperti - Harga lahan yang melambung di kota-kota besar memaksa pembangunan hunian dilakukan secara vertikal.

Secara ekonomi, hunian vertikal memang lebih efisien mengingat dalam satu lahan bisa dibangun lebih banyak unit daripada rumah tapak.

Mahalnya harga lahan ini tidak hanya terjadi di Jakarta, tetapi juga mulai menyebar ke kota penyangganya seperti Depok.

"Kita enggak bisa pungkiri (pilihan) orang terbelah antara yang cari landed dan apartemen," ujar General Manager Marketing Grand Depok City Tony Hartono kepada KompasProperti, Minggu (7/5/2017).

Meski demikian, Tony mengatakan, dari segi kebutuhan, rumah masih lebih sering dicari ketimbang hunian vertikal dalam hal ini apartemen.

Di Depok, satu unit apartemen luas maksimalnya hanya 30-38 meter persegi. Kalau rumah tapak, lahan yang didapatkan bisa 120 meter persegi.

Baca: Sekali Lagi, Ini Syarat mendapatkan Rumah DP 1 Persen

Dari segi harga, Tony mengklaim antara apartemen dan rumah juga berbeda jauh.

"Jika apartemen per meter persegi rata-rata Rp 15 juta, kita masih Rp 5 juta," sebut Tony.

Ia menambahkan, keunggulan memiliki rumah juga karena bisa dikembangkan kembali. Sedangkan apartemen mungkin hanya cukup untuk pasangan suami-istri.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.