Pengendara Kecam Pemerintah Terkait Ketidaksiapan Integrasi Tol Jakarta-Merak

Kompas.com - 10/04/2017, 21:00 WIB
Mobil terjebak macet tol Jakarta-Merak di Balaraja Timur, Serang, Banten, akibat banjir luapan Sungai Ciujung yang merendam tol di kilometer 57, Kamis (10/1/2013). Akibat banjir ini akses tol Jakarta-Merak putus dan ratusan rumah warga terendam. KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO KRISTIANTO PURNOMOMobil terjebak macet tol Jakarta-Merak di Balaraja Timur, Serang, Banten, akibat banjir luapan Sungai Ciujung yang merendam tol di kilometer 57, Kamis (10/1/2013). Akibat banjir ini akses tol Jakarta-Merak putus dan ratusan rumah warga terendam. KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO
|
EditorHilda B Alexander

JAKARTA, KompasProperti - Tol Jakarta-Tangerang dan Tangerang-Merak yang sudah diintegrasikan sejak Minggu (9/4/2017), menuai keluhan dan kecaman masyarakat pengguna.

Pasalnya, integrasi dua ruas tol ini ditandai dengan penghapusan Gerbang Tol (GT) Karang Tengah yang mengakibatkan kemacetan parah di beberapa titik seperti GT Alam Sutera dan Karawaci, juga pemberlakuan tarif baru berskema datar (flat).

Meski tujuan integrasi tol ini adalah untuk mengurai simpul kemacetan yang biasanya terjadi di GT Karang Tengah, kenyataannya banyak pengguna tol tidak merasakan efektivitasnya.

Sejumlah pembaca Kompas.com menuliskan komentar bernada negatif pada artikel yang berjudul "Pemerintah Minta Maaf Integrasi Tol Jakarta-Merak Bikin Macet", atas ketidaksiapan pemerintah san juga operator tol yakni PT Jasa Marga (persero) Tbk dan PT Marga Mandalasakti. 

Seperti yang dicurahkan oleh Adhi Karyoatmodjo pada kolom komentar. Dia mengecam pemerintah hanya kejar tayang dan terkesan terburu-buru menerapkan integrasi tanpa memikirkan akibatnya.

"gt di exit2 stlh karang tengah, menjadi macet, karena transaksi manual, gto (gerbang tol otomatis) belum beroperasi," kata Adhi.

Padahal, tutur Adhi, operator jalan tol telah memasang spanduk pemberitahuan kepada pengguna yang menekankan bahwa tol hanya bisa melayani transaksi non-tunai.

Namun, karena GTO belum beroperasi, macet pun tidak terhindarkan akibat konsumen harus menyiapkan uang tunai.

Selain itu, keluhan juga datang dari Gunawah Halim. Ia mengaku, arus lalu lintas di ruas Tol Jakarta-Tangerang-Merak lebih lancar, namun waktu tempuh tetap panjang karena di bagian gerbang masuk atau keluarnya tersendat.

"Kita sebagai pengguna tidak masalah bayar (tol) tapi seharusnya sebagai pengelola juga bijak. Jika memang belum siap ya jangan dioperasikan dulu," tutur Gunawah.

Pada kesempatan yang sama, Alexander Ignatius meminta pengelola menggratiskan jalan tol karena integrasi belum sempurna.

Ia menganggap, menerapkan tarif baru sementara integrasi belum siap sama saja membebani konsumen.

"Siang ini aja udah berapa kerugian saling desak dan minor accidents gara2 pengemudi gagap perubahan. pelaksananya perlu di-SP 2 nih," sebut Alexander.

Sementara itu, Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Herry Trisaputra Zuna menjelaskan, integrasi ini memungkinkan pemberlakuan sistem terbuka.

Artinya, jika selama ini transaksi dilakukan di tengah jalur, yaitu GT Karang Tengah, sekarang diubah dan dikonsentrasikan ke asal dan tujuan pengendara.

Dampak dari integrasi ini adalah kebutuhan pembangunan 51 gardu tol baru di sejumlah titik, yang saat ini baru terbangun 26 gardu.

"Saya sendiri berkeinginan sekali (semua dibangun sekaligus), tapi kita perlu pahami secara total peralatan baru siap 23 April," tutur Herry.

Akibat perubahan ini timbul antrean panjang di titik-titik jalur lain seperti di Alam Sutera, dan Karawaci.

"Karena itu, kami mohon maaf pengendara harus mengantre, kalau lihat di lapangan terutama di Alam Sutera, kemudian Karawaci," ujar Herry.

Berikut infografis tarif baru Tol Jakarta-Tangerang-Merak:

KOMPAS.com Tarif Baru Jalan Tol Tangerang-Merak



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X