Sinergikan Lintas Departemen, Kemenpar Gelar Rakornas Pariwisata

Kompas.com - 30/03/2017, 16:22 WIB
Menteri Pariwisata Arief Yahya membuka acara Semarang Great Sale 2017 di Balairung Soesilo Soedarman Gedung Sapta Pesona Kementerian Pariwisata, Selasa (14/3/2017). Semarang Great Sale diadakan pada tanggal 7 April - 7 Mei 2017. ARSIP KEMENPARMenteri Pariwisata Arief Yahya membuka acara Semarang Great Sale 2017 di Balairung Soesilo Soedarman Gedung Sapta Pesona Kementerian Pariwisata, Selasa (14/3/2017). Semarang Great Sale diadakan pada tanggal 7 April - 7 Mei 2017.
|
EditorHilda B Alexander

JAKARTA, KompasProperti - Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menggelar Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pariwisata I-2017 dalam rangka memperkuat sinergi semua elemen guna mewujudkan target nasional pariwisata.

Sejumlah elemen seperti Kementerian Koordinator Kemaritiman, Kementerian Perhubungan, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) turut menghadiri rakornas yang rencananya digelar selama dua 30-31 Maret 2017.

Rakornas Pariwisata I-2017 yang mengangkat tema "Indonesia Incorporated: Synergies for Better Tourism Connectivity" mengagendakan sejumlah topik bahasan.

Tujuannya untuk membuat dukungan konektivitas udara, laut, dan darat dalam mendukung target 20 juta wisatawan mancanegara pada 2019 mendatang.

"Kelemahan pariwisata kita ini adalah kurang Indonesia Incorporated, ego-ego antar-kementerian masih besar dan itu mesti diubah menjadi sebuah sinergi kesatuan," kata Menteri Pariwisata Arief Yahya, saat membuka rakornas di Hotel Borobudur Jakarta, Kamis (30/3/2017).

Mengubah hal tersebut diakui Arief merupakan perkara gampang dengan hanya menyamakan persepsi terkait "musuh" Indonesia dalam sektor pariwisata.

Arief kemudian dengan tegas menyebutkan Malaysia sebagai "musuh utama" Indonesia dalam sektor pariwisata.

Jika semua kementerian terlibat memiliki pemahaman solid akan hal tersebut maka Arief yakin sinergi yang terjadi bisa lebih kuat lagi.

Selain itu, hal lain yang melemahkan industri pariwisata Indonesia adalah perihal regulasi yang terkait dengan Kemenhub.

"Ada catatan salah satunya adalah kalau mau buat rute penerbangan baru maka maskapai penerbangan harus menciptakan business plan baru dan itu kan nggak sebentar buatnya, sekitar enam bulan makanya regulasi ini harus dimodifikasi," tutur Arief.

Selain itu, tarif berlabuh kapal-kapal di pelabuhan besar Indonesia seperti Tanjung Priok, Tanjung Perak, dan Benoa itu tiga kali lipat dibandingkan negara-negara kompetitor dan itu dinilai Arief sangat mahal.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X