Banjir di Jakarta, Ini Kata Pengamat Tata Kota

Kompas.com - 22/02/2017, 09:07 WIB
Jalan Taman Malaka Selatan 3 di Malaka Sari, Duren Sawit, Jakarta Timur tergenang banjir setinggi 40 sentimeter akibat luapan Kali Buaran atau Kali Jatikramat. Selasa (21/2/2017). Kompas.com/Robertus BelarminusJalan Taman Malaka Selatan 3 di Malaka Sari, Duren Sawit, Jakarta Timur tergenang banjir setinggi 40 sentimeter akibat luapan Kali Buaran atau Kali Jatikramat. Selasa (21/2/2017).
|
EditorHilda B Alexander

JAKARTA, KompasProperti - Hujan deras yang mengguyur Jabodetabek pada Selasa (21/2/2017) pagi menyebabkan sejumlah wilayah terendam banjir. Setidaknya ada 54 wilayah di Ibu Kota yang terendam banjir. 

Padahal Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melansir bahwa hujan yang terjadi pada bulan ini belum mencapai puncaknya.

Pengamat tata kota Universitas Trisakti Yayat Supriatna mengatakan, curah hujan yang terjadi hari ini memang cukup tinggi ada di kisaran 145-180 milimeter per detik sehingga hal tersebut membuat beberapa wilayah di DKI Jakarta tergenang air.

"Namun, yang menjadi catatan adalah curah hujan 50 sampai 100 milimeter per detik saja sudah bisa membuat Jakarta tergenang. Persoalannya bukan semata-mata karena hujan," jelas dia dalam program Kompas Malam di Kompas TV, Selasa (21/2/2017).

Persoalan-persoalan tersebut, lanjut Yayat di antaranya adalah perubahan bentang alam DKI Jakarta, kemudian diperparah dengan buruknya drainase, permukaan tanah yang turun, dan jenuhnya tanah Jakarta terhadap air sehingga begitu air masuk segera tumpah menjadi ramp off semua.

Persoalan lainnya yang tak kalah penting menurut Yayat adalah belum berfungsi sepenuhnya upaya normalisasi oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.

"Normalisasi Sungai Ciliwung sepanjang 36 kilometer sekarang ini belum berfungsi dengan baik karena pembebasan lahannya saja baru 42 persen. Jadi pengerjaannya nggak tuntas-tuntas," tambah Yayat.

Yayat sendiri menilai normalisasi Sungai Ciliwung jika rampung dikerjakan bisa menjadi solusi untuk meminimalisir banjir di Jakarta.

"Rencana sudetan Ciliwung juga belum bisa jadi solusi karena faktanya semua itu terbentur aksi-aksi di lapangan, penduduk yang tinggal di area rawan banjir, dan juga terbentur pembebasan lahan," tandas Yayat.

 



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X