MRT Jakarta Bukan Hanya Soal Transportasi, Juga Gaya Hidup

Kompas.com - 27/01/2017, 08:14 WIB
Aktivitas pekerja menyelesaikan pengerjaan proyek pengeboran terowongan untuk angkutan massal cepat (Mass Rapid Transit/MRT) di Stasiun Dukuh Atas, Jakarta Pusat, Kamis (24/11/2016). Pengerjaan proyek MRT fase pertama ini diperkirakan rampung pada tahun 2018. KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNGAktivitas pekerja menyelesaikan pengerjaan proyek pengeboran terowongan untuk angkutan massal cepat (Mass Rapid Transit/MRT) di Stasiun Dukuh Atas, Jakarta Pusat, Kamis (24/11/2016). Pengerjaan proyek MRT fase pertama ini diperkirakan rampung pada tahun 2018.
|
EditorHilda B Alexander

JAKARTA, KompasProperti - Untuk mengurai kemacetan, dan mendorong masyarakat menggunakan layanan transportasi umum di Jakarta, pemerintah membangun Mass Rapid Transit (MRT)

Menurut Direktur Utama PT MRT Jakarta William P Sabandar, konsep pengembangan MRT berdasarkan pada 3 in one approach.

"Pertama, infrastruktur. Koridor Lebak Bulus-Hotel Indonesia itu diharapkan selesai Februari 2019," ujar William saat Economic Challenges: Transportation Outlook 2017, di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (26/1/2017).

Pendekatan kedua, tutur William, adalah dengan memastikan bahwa operasi dan pemeliharaan kereta bisa sesuai standar internasional.

Saat ini, yang tengah dilakukan PT MRT Jakarta adalah benchmarking dengan operator MRT di dunia.

Ketika beroperasi, William ingin pastikan seluruh aspek kenyamanan dan keamanan bisa terpenuhi.

"Ketiga terkait peradaban adalah gaya hidup, kita membawa perubahan budaya," kata William.

KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG Aktivitas pekerja menyelesaikan pengerjaan proyek pengeboran terowongan untuk angkutan massal cepat (Mass Rapid Transit/MRT) di Stasiun Dukuh Atas, Jakarta Pusat, Kamis (24/11/2016). Pengerjaan proyek MRT fase pertama ini diperkirakan rampung pada tahun 2018.
Dengan beroperasinya 13 stasiun baru, akan mengubah gaya hidup sehari-hari 200.000 penumpang.

Di antaranya, ditunjukkan dari pembangunan kawasan transit yang beradab berdasarkan koordinasi antara Kementerian Perhubungan bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

"Ini kan kultur. Hal paling sederhana adalah bagaimana transportasi modern fokus pada aspek keselamatan, misalnya membudayakan antre masuk-keluar stasiun," tutur William.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X